Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang bersama Prabowo Subianto (kiri) dalam gerbong MRT menuju stasiun MRT Senayan, Jakarta. Foto: MI/Pius Erlangga.
Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang bersama Prabowo Subianto (kiri) dalam gerbong MRT menuju stasiun MRT Senayan, Jakarta. Foto: MI/Pius Erlangga.

Produksi Hoaks Tak Berhenti Pascarekonsiliasi

Nasional pilpres 2019 hoax
Candra Yuri Nuralam • 15 Juli 2019 15:23
Jakarta: Pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto belum menghentikan produksi hoaks. Berita bohong tetap beredar meski kedua tokoh itu sudah melakukan bertemu.
 
"Masih ada beberapa (hoaks)," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo saat mengisi diskusi di Kantor Center for Strategic and International Studies (CSIS), Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin, 15 Juli 2019.
 
Dedi mencontohkan di media sosial (medsos) masih ada tagar yang menyuarakan ketidaksetujuan dengan rekonsiliasi Jokowi-Prabowo yang berlangsung Sabtu, 13 Juli 2019. "Kita juga masih menemukan foto-foto maupun video provokasi," ujar Dedi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kepolisian, jelas dia, akan menguatkan langkah antisipasi penyebaran hoaks pascarekonsiliasi ini. Polri telah menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) untuk memantau dunia maya.
 
"Kalau itu hoaks, akan kita kasih stempel hoaks. Kami juga bekerja sama dengan Kominfo untuk menurunkan konten-konten negatif," jelas Dedi.
 
Menurut dia, kepolisian tidak segan-segan menindak tegas akun maupun penyebar hoaks di medsos. Hal ini untuk menangkal narasi propaganda pemecah belah bangsa.
 
Baca: JK: Pertemuan Jokowi-Prabowo Mendamaikan Bangsa
 
Namun, Dedi belum bisa memastikan total peningkatan konten bermuatan hoaks yang masih berkembang pascarekonsiliasi. Dia belum menghitung secara kumulatif kasus hoaks yang terjadi.
 
Hoaks diprediksi akan berlangsung hingga pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih, Minggu, 20 Oktober 2019. Untuk itu, Korps Bhayangkara akan terus memantau Facebook, Instagram, dan medsos lainnya.
 
"Indikasi seperti itu pasti ada. Narasi-narasi yang dibangun itu akan terus dilakukan mereka. Jejak digital mereka sudah kita baca semuanya. Kami sudah hafal polanya, ada foto, video, yang ditambah dengan narasi. Itu akan bertambah terus," jelas dia.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif