Tersangka Ratna Sarumpaet - Medcom.id/Dian Ihsan Siregar.
Tersangka Ratna Sarumpaet - Medcom.id/Dian Ihsan Siregar.

Perjalanan Kasus Ratna Sarumpaet

Nasional Kabar Ratna Dianiaya
Fachri Audhia Hafiez • 28 Februari 2019 08:00
Jakarta: Tersangka kasus hoaks Ratna Sarumpaet akan mulai duduk di kursi pesakitan hari ini, Kamis, 28 Februari 2019. Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan dari jaksa penuntut umum akan digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan mulai pukul 09.00 WIB.
 
Kasus Ratna berawal saat foto mantan juru kampanye nasional Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyebar di media sosial dengan wajah 'tampak' lebam. Berhembus kabar Ratna dianiaya di Bandung, Jawa Barat pada Selasa, 21 September 2018.
 
Namun, Ratna tidak langsung melapor polisi atas penganiayaan yang dialaminya. Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Azhar Simanjuntak mengatakan, Ratna saat itu merasa takut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Danhil, Ratna tak ingin kasus ini meledak. Sebab itu, tambah dia, Ratna memohon kasusnya tak dipublikasikan. "Informasi yang saya dapat cuma sekitar itu," kata Dahnil, kepada Medcom.id, Selasa, 2 Oktober 2018.
 
Kabar penganiayaan Ratna pun sampai ke telinga Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. Prabowo mengatakan penganiayaan ini suatu tindakan yang represif, di luar kepatutan, dan tindakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
 
Ketua Umum Partai Gerindra ini terang-terangan menyatakan akan mengadukan kasus Ratna ke Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian. "Dalam waktu dekat untuk minta waktu menghadap Kapolri dan pejabat-pejabat lain untuk membicarakan masalah ini," kata Prabowo saat jumpa pers di kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Selasa, 2 Oktober 2018.
 
Tak ingin keceolongan, polisi melakukan penyelidikan dan menemukan kejanggalan. Pada Jumat, 21 September 2018, Ratna nyatanya sedang dirawat usai operasi plastik di Rumah Sakit Khusus Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat. "Jadi, informasi pada 21 September 2018 dia tidak berada di Bandung," kata Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Kombes Nico Afinta di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 3 Oktober 2018.
 
Pihak RSK Bedah Bina Estetika pun membenarkan Ratna dirawat untuk oplas selama 21 hingga 24 Oktober 2018. Itu terlihat dari buku registrasi rawat inap. Ratna masuk RSK pada 21 September 2018 pukul 17.00 WIB. Berdasarkan rekaman CCTV, dia keluar pada Senin, 24 Oktober 2018, pukul 21.28 WIB dengan taksi Blue Bird.
 
Ratna mengaku berbohong
 
Usai polisi memiliki bukti bahwa kabar penganiayaan itu palsu, Ratna kemudian melakukan jumpa pers di kediamannya, Jalan Kampung Melayu V, Tebet, Jakarta, Rabu, 3 Oktober 2018.
 
Ratna mengakui telah berbohong atas dugaan penganiayaan terhadapnya. Dia memastikan penganiayaan itu tak benar. "Kali ini saya pencipta hoaks terbaik ternyata. Menghebohkan sebuah negeri," kata Ratna.
 
Dia juga mengakui telah membohongi Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dan politikus senior Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais. Dia tak menyangka Prabowo dan Amien begitu membelanya setelah mendengar kebohongan itu. "Saya memohon maaf kepada Pak Prabowo Subianto yang kemarin secara tulus membela saya, membela kebohongan yang saya buat," ucap Ratna.
 
Baca: Sidang Ratna Sarumpaet Dipimpin Wakil Ketua PN Jaksel
 
Tak sampai di siti, Ratna kemudian ditangkap polisi di Bandara Soekarno-Hatta sebelum terbang ke luar negeri. Ia diduga berencana melakukan perjalanan ke Chile, Amerika Selatan.
 
Kamis, 4 Oktober 2018, Ratna terdata sebagai penumpang Turkey Airlines. Sedianya, ia terbang sekitar pukul 21.00 WIB. Ratna dicekal ke luar negeri atas permintaan Polda Metro Jaya.
 
Usai penangkapan, Ratna dibawa ke Polda Metro Jaya dan ditetapkan sebagai tersangka. Ia ditetapkan sebagai tersangka penyebaran informasi bohong.
 
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, Ratna diduga melanggar Pasal 14 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 ayat 2 UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 45. Ratna terancam hukuman 10 tahun penjara.
 
Ratna resmi ditahan
 
Ratna dinyatakan ditahan Jumat, 5 Oktober 2018. Penahanan merujuk pada surat perintah dengan nomor SPH /925 /10 2018 Ditreskrimum Polda Metro Jaya.
 
Argo menyebut alasan lain Ratna ditahan adalah bagian kewenangan penyidik. Salah satunya, kata dia, penyidik khawatir Ratna seperti pentolan FPI Rizieq Shihab yang kabur ke Arab Saudi.
 
Dalam perkara ini, Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) turut memanggil sejumlah pihak untuk dimintai keterangan. Beberapa diantaranya ialah, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais‎; Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal; staf Ratna, Ahmad Rubangi; dua anak Ratna, Atiqah Hasiholan dan Fathom Saulina.
 
Kemudian Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandi, Nanik S Deyang, Juru Bicara Bicara BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Azhar Simanjuntak dan akademisi Rocky Gerung.
 
Dilimpahkan ke Kejari Jaksel
 
Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung Mukri, Kamis, 31 Januari 2019 menyatakan, berkas perkara kasus Ratna sudah dinyatakan lengkap (P-21). Kasus Ratna kemudian dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan. Tim jaksa dari Kejari Jakarta Selatan melimpahkan berkas dakwaan hoaks Ratna ke PN Jakarta Selatan.
 
Kepala Humas PN Jaksel Achmad Guntur menjelaskan sidang perdana Ratna beragendakan pembacaan dakwaan dari jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan akan terbuka untuk umum.
 
Sidang bakal dipimpin oleh Ketua Hakim Joni dengan wakil anggota Krisnugroho dan Mery Taat Anggarasih. Joni diketahui merupakan wakil ketua PN Jakarta Selatan.
 
Kemudian panitera pengganti I Muratno dan panitera pengganti II Edi Suwitno. Bertindak sebagai jaksa penuntut umum di antaranya, Arya Wicaksana, Sarwoto, Donny M Sany, dan Las Maria Siregar.
 
Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Supardi mengaku optimistis jaksa penuntut umum akan menang di persidangan.
 
“Kalau dakwaan lengkap berarti kan optimis, memenuhi unsur pasal yang disangkakan,” kata Supardi, Selasa, 26 Februari 2019.
 
Akibat perbuatannya, Ratna dijerat Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 juncto Pasal 45 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
 

(YDH)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif