Ilustrasi/MI/Ramdani
Ilustrasi/MI/Ramdani

Benny Tjokro Curhat Jadi Korban Konspirasi

Nasional kasus korupsi Jiwasraya
Christian • 22 Oktober 2020 23:49
Jakarta: Terdakwa kasus dugaan tindak pidana korupsi asuransi Jiwasraya, Benny Tjokrosaputro mengaku jadi korban konspirasi jaksa penuntut umum (JPU). Menurut dia, banyak tuduhan JPU tak berdasar, salah satunya terkait kepemilikan Wana Artha oleh Benny.
 
“Hal ini menunjukkan bahwa JPU memanipulasi fakta dengan serangkaian kebohongan dan itikad buruk yang mengatasnamakan hukum untuk mengkriminalisasikan diri saya,” kata Benny dalam nota pembelaan atau pledoi dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor pada Kamis, 22 Oktober 2020.
 
Selain itu, Benny mengatakan tuntutan penjara seumur hidup tak tepat.Sebab, dalam fakta persidangan tidak dapat dibuktikan bahwa dirinya mengatur atau mengendalikan investasi Jiwasraya, baik dalam reksa dana saham maupun transaksi saham.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Saya tidak bisa memahami dan menerima tuntutan jaksa yang menuntut penjara seumur hidup karena mendasarkan pada Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan UU Pencucian Uang," kata dia.
 
Dia membantah keterkaitan atas transaksi ilegal bersama terdakwa lain, yakni Heru Hidayat, Joko Hartono Tirto, Hendrisman Rahim, Hary Prasetyo, dan Syahmirwan. Benny mengeklaim transaksi yang dilakukannya sah menurut hukum.
 
Benny juga menyebutseluruh kewajiban telah dilunasi baik dari RePO saham maupun MTN-MTN yang pernah diterbitkan. Artinya, tidak ada lagi kerugian keuangan negara yang ditimbulkan dari perjanjian RePO dan MTN tersebut.
 
Kuasa Hukum Benny Tjokro, Bob Hasan mengatakan jaksa berlebihan mengaitkan Wana Artha dengan kasus Jiwasraya. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan pihaknya, tak ada kaitan antara Wana Artha dengan kasus yang Benny Tjokro.
 
Baca:Penuntutan Seumur Hidup Benny Tjokrosaputro Dianggap Terobosan Hukum
 
“Ini lebay. Mereka menganggap nominee itu punya Benny itu dikendalikan oleh Wana Artha. Justru sebaliknya memberikan pinjaman ke emiten-emiten,” kata Hasan.
 
Dia mensinyalir, ada kesalahan jaksa saat membekukan rekening efek milik Wana Artha. Salah satunya, melakukan penyitaan tanpa memeriksa emiten.
 
“Pak Benny itu pakai nominee-nominee. Sedangkan Wana Artha itu bos. Nominee-nominee itu strata bawah. Jadi gak ada sangkutannya,” jelas Hasan.
 
Dia meminta Majelis Hakim membuka rekening efek yang dibekukan. Sebab menurut Hasan, tak ada perbuatan melawan hukum yang dilakukan terkait rekening tersebut.
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif