Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Pelaku Mutilasi di Bekasi Perlu Dilindungi Sebagai Korban Kejahatan Seksual

Siti Yona Hukmana • 10 Desember 2020 08:33
Jakarta: Tersangka AH, 17, memutilasi DS, 24, di Bekasi, Jawa Barat, karena kerap dilecehkan. Pelaku pembunuhan itu dinilai harus dilindungi sebagai korban kejahatan seksual. 
 
"Kata Presiden Jokowi (Joko Widodo), kejahatan seksual terhadap anak adalah kejahatan luar biasa," kata ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel dalam keterangan tertulis, Kamis, 10 Desember 2020.
 
Menurut dia, AH masih masuk kategori anak-anak karena berusia 17 tahun. AH perlu mendapatkan perlindungan khusus mengacu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Reza mengakui AH berstatus ganda sebagai pelaku pembunuhan dan korban pelecehan seksual. Namun, proses hukum harus mendahulukan statusnya sebagai korban kajahatan seksual. 
 
Baca: Manusia Silver Pelaku Mutilasi di Bekasi Ditangkap
 
Kasus ini, kata dia, tidak bisa hanya ditangani kepolisian. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak (KPPPA), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) diminta turun tangan dalam proses hukum AH. 
 
"Termasuk untuk memastikan terealisasinya perlindungan khusus bagi korban," tutur ujar konsultan Lentera Anak Foundation itu. 
 
Warga dan pengendara di Bekasi Selatan digegerkan dengan penemuan jasad korban mutilasi tanpa kepala, kaki, dan tangan kanan pada Senin, 7 Desember 2020. AH, yang sehari-hari bekerja sebagai 'manusia silver', kemudian ditangkap.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif