Ilustrasi KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Ilustrasi KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Bos Paranayo Jaya Utama Mangkir Panggilan KPK

Nasional kasus ipdn kasus korupsi
Juven Martua Sitompul • 24 Juni 2019 20:11
Jakarta: Direktur PT Paranayo Jaya Utama, Bertina Panjaitan mangkir dari panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bertina sedianya diperiksa sebagai saksi kasus dugaan korupsi pembangunan gedung Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
 
Selain Bertina, satu saksi lain yakni arsitek PT Bita Enarcon Engineering, Torret Koesbiantoro juga tak memenuhi panggilan penyidik. Keterangan kedua saksi dibutuhkan untuk melengkapi berkas penyidikan Kepala Divisi Konstruksi VI PT Adhi Karya, Dono Purwoko.
 
"Penyidik akan menjadwalkan ulang pemeriksaan kedua saksi tersebut," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Yuyuk Andriati di Gedung KPK, Jakarta, Senin, 24 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, Yuyuk belum mengetahui secara pasti waktu pemeriksaan kedua saksi itu. Pemanggilan ulang akan disampaikan ke publik setelah menerima informasi resmi dari penyidik.
 
Baca juga: Bos Paranayo Jaya Utama Diperiksa di Kasus IPDN
 
KPK terus mengusut kasus dugaan korupsi IPDN. Salah satu yang tengah didalami adalah peran dua korporasi PT Adhi Karya dan PT Waskita Karya selaku penggarap proyek pembangunan gedung IPDN.
 
Kuat dugaan kedua korporasi ini ikut terlibat dalam skandal pembangunan IPDN tersebut. Untuk memperkuat dugaan itu, penyidik pun menggeledah kantor PT Adhi Karya dan PT Waskita Karya di Jakarta.
 
Sejumlah dokumen dan bukti elektronik pun disita tim dari kedua lokasi tersebut. Dokumen dan bukti elektronik itu tengah dipelajari lebih lanjut.
 
Teranyar, penyidik juga menyita sejumlah dokumen dari staf Keuangan dan Sumber Daya Manusia PT Waskita Karya, Setiadi Pratama dan staf PT Kakanta, Andi Sastrawan yang menjadi pelaksana lapangan proyek IPDN Gowa. Dokumen itu diduga berkaitan dengan kasus tersebut.
 
Dudy Jocom ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan empat kampus IPDN di Sulawesi Selatan dan kampus IPDN di Sulawesi Utara. KPK juga menetapkan dua tersangka lain yakni Kepala Divisi Gedung atau Kepala Divisi I PT Waskita Karya, Adi Wibowo dan Kepala Divisi Konstruksi VI PT Adhi Karya, Dono Purwoko.
 
Dalam kasus ini, Dudy Jocom melalui kenalannya diduga menghubungi beberapa kontraktor untuk menginformasikan adanya proyek IPDN. Selanjutnya, para pihak itu menggelar pertemuan di sebuah kafe di Jakarta.
 
Dari pertemuan itu, disepakati adanya pembagian proyek. Proyek IPDN di Sulawesi Selatan digarap Waskita Karya, sementara PT Adhi Karya menggarap proyek IPDN di Sulawesi Utara. Dudy Jocom Cs diduga meminta fee tujuh persen dari setiap proyek itu.
 
Negara diduga mengalami kerugian sekitar Rp21 miliar akibat kasus ini. Nilai kerugian itu berdasarkan kekurangan pekerjaan pada kedua proyek tersebut. Untuk proyek IPDN di Sulawesi Selatan negara merugi Rp11,18 Miliar dan Rp9,378 miliar untuk proyek kampus IPDN di Sulawesi Utara.
 
Dudy Jocom, Adi Wibowo, dan Dono Purwoko disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(HUS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif