Suasana sidang kasus dugaan suap pajak. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Suasana sidang kasus dugaan suap pajak. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Saksi Kasus Suap Pajak Mengaku Diteror

Nasional KPK Teror Kasus Suap kasus korupsi korupsi pajak Angin Prayitno Aji
Fachri Audhia Hafiez • 07 Desember 2021 18:34
Jakarta: Wiraswasta Fatoni mengaku diteror ketika mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Angin Prayitno Aji, terjerat kasus dugaan suap pengurusan pajak. Fatoni pernah membantu Angin membeli sejumlah bidang tanah.
 
"Ada orang yang membuang pasir ke saya. Buang pasir di toko pada jam kerja, jam 07.00, ditangkapnya sama satpam dan polisi," kata Fatoni saat persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa, 7 Desember 2021.
 
Fatoni menuturkan orang yang menabur pasir itu sempat diinterogasi. Orang itu mengaku disuruh oleh ibu Angin.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ditangkap dia bilang 'saya diperintah oleh ibunya Pak Angin'," ucap Fatoni.
 
Orang yang menabur pasir itu tidak diproses lebih lanjut. Fatoni membiarkan orang itu pergi dengan jaminan tidak mengulangi perbuatannya.
 
"Proses di polisi saya batalin, suruh pulang," ujar Fatoni.
 
Selain itu, Fatoni mengaku diteror melalui WhatsApp. Dia hanya menerima pesan dengan tulisan agar bekerja sama dan berkoordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengamankan aset-aset Angin.
 
Fatoni tak tahu sosok dibalik pengirim pesan elektronik tersebut. Dia hanya tahu kontak dari pesan itu bergambar seorang perempuan.
 
"Saya enggak jawab (chat-nya), tapi itu perempuan, ibu-ibu," kata Fatoni.
 
Baca: Jaksa Dalami Dugaan Kepemilikan 81 Bidang Tanah Angin Prayitno
 
Fatoni dihadirkan sebagai saksi terkait kasus dugaan suap pengurusan pajak. Perkara itu menjerat Angin Prayitno dan eks Kepala Subdirektorat Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan Ditjen Pajak, Dadan Ramdani.
 
Angin dan Dadan didakwa menerima suap Rp15 miliar dan SGD4 juta (sekitar Rp42,1 miliar) terkait hasil rekayasa penghitungan pajak. Perbuatan itu juga dilakukan bersama-sama tim pemeriksa pajak dari Ditjen Pajak yakni, Wawan Ridwan, Alfred Simanjuntak, Yulmanizar, dan Febrian.
 
Mereka merekayasa hasil penghitungan pajak pada wajib pajak PT GMP untuk tahun pajak 2016. Lalu, wajib pajak PT Panin Bank tahun pajak 2016 dan PT Jhonlin Baratama (JB) untuk tahun pajak 2016 dan 2017.
 
Angin dan Dadan didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif