Terdakwa kasus makar dan penodaan agama Ahmad Musadeq (tengah), Andry Cahya (kiri) dan Mahful Muis Tumanurung mendengarkan tuntutan jaksa di Pengadian Negeri Jakarta Timur, Jakarta, Rabu (8/2/2017). Antara Foto/Rosa Panggabean/aww/17.
Terdakwa kasus makar dan penodaan agama Ahmad Musadeq (tengah), Andry Cahya (kiri) dan Mahful Muis Tumanurung mendengarkan tuntutan jaksa di Pengadian Negeri Jakarta Timur, Jakarta, Rabu (8/2/2017). Antara Foto/Rosa Panggabean/aww/17.

Terdakwa Kelompok Gafatar Ajukan Keberatan

Nasional gafatar
17 Februari 2017 10:23
medcom.id, Jakarta: Tiga terdakwa kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dalam kasus dugaan penodaan agama dan makar menilai persidangan mereka merupakan bentuk kriminalisasi dan tidak mencerminkan penegakan keadilan. Ketiga terdakwa, yakni Mahful Muis, Abdussalam alias Ahmad Musadeq, dan Andry Cahya.
 
Dalam pembacaaan nota pembelaan (pleidoi) di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis 16 Februari, terdakwa Andry Cahya menegaskan, dalam 20 kali persidangan saksi dan fakta yang ditemukan, mayoritas meringankan ketiga terdakwa.
 
"Kami sudah lama, sidang tuntutan dibuat berdasarkan fakta persidangan, tetapi ini berdasarkan BAP (berita acara pemeriksaan) yang mengulang hasil penyidikan," kata Andry.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penasihat hukum ketiga terdakwa, Pratiwi Febry, menyebut ada keganjilan dalam persidangan ketiga mereka. Pasal yang dikenakan pun dinilainya mengada-ada dengan pasal penodaan agama dan makar.
 
"Penodaan agama dan makar sendiri ialah bentuk kriminalisasi yang sedang naik daun sekarang ini. Pasal itu pasal karet yang kerap digunakan sebagai praktik negara untuk inkuisi terhadap orang atau organisasi yang berbeda paham."
 
Dengan mengacu pada kejanggalan tersebut, lanjut Pratiwi, tim kuasa hukum ketiga terdakwa keberatan atas tuntutan jaksa. Menurutnya, tuduhan terkait perbedaan pendapat dan cara berpikir tidak dapat dihukum karena hal itu bukan tindak pidana.
 
Sebelumnya, jaksa menuntut Ahmad Musadeq bersama Mahful Muis dijatuhi hukuman 12 tahun penjara atas kasus penodaan agama dan makar. Adapun Andri Cahya, anak Musadeq yang juga Presidium Gafatar, dituntut 10 tahun penjara.
 
Ketiganya dijerat dengan tuntutan pidana di KUHP tentang makar dan penodaan agama. (Media Indonesia)
 

(TRK)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif