Warga melintas mural melawan korupsi di kawasan Kebon Nanas, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Foto: MI/Ramdani.
Warga melintas mural melawan korupsi di kawasan Kebon Nanas, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Foto: MI/Ramdani.

Pejabat Kementerian PUPR Dipanggil KPK

Nasional OTT di Kementerian PUPR
Juven Martua Sitompul • 19 Februari 2019 11:26
Jakarta: Tiga pejabat pembuat komitmen (PPK) di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka akan diperiksa terkait kasus dugaan suap proyek pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) tahun anggaran 2017-2018 milik Kementerian PUPR.
 
"Ketiga PPK diperiksa sebagai saksi untuk tersangka TMN (Kepala Satuan Kerja SPAM Darurat, Teuku Moch Nazar)," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa, 19 Februari 2019.
 
Ketiga orang yang akan dikorek keterangannya itu adalah PPK Gorontalo, Rino Putra Catur Pamungkas; PPK Sulawesi Utara, Hario Pamungkas; dan PPK Sumatra Selatan, Khoirul Hakim. Selain itu, ada tiga saksi lain yang juga dipanggil, yakni Kepala Satuan Kerja (Kasatker) proyek SPAM Kepulauan Riau, Farid Sudibyo; Kasatker proyek SPAM Riau, Sahta Bangun; dan PNS Kementerian PUPR Hanny Mayana.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Delapan orang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Empat di antaranya sebagai pihak pemberi, yakni Direktur Utama PT Wijaya Kesuma Emindo (WKE), Budi Suharto; Direktur PT WKE, Lily Sundarsih; Direktur PT Tashida Sejahtera Perkasa (TSP), Irene Irma; dan Direktur PT TSP, Yuliana Enganita Dibyo.
 
Tersangka lainnya diduga sebagai penerima suap. Meraka adalah Kasatker SPAM Strategis atau PPK SPAM Lampung, Anggiat Partunggul Nahot Simaremare; PPK SPAM Katulampa, Meina Woro Kusrinah; Kepala Satuan Kerja SPAM Darurat, Teuku Moch Nazar; dan PPK SPAM Toba I, Donny Sofyan Arifin.
 
Baca: Suap Proyek Air Diduga Mengucur ke Banyak Pihak
 
Total barang bukti yang disita KPK dalam kasus ini uang sejumlah Rp3,3 miliar, SGD23.100, dan USD3.200. Dalam kasus ini, Anggiat, Meina, Nazar dan Donny diduga menerima suap untuk mengatur lelang terkait proyek pembangunan SPAM tahun 2017-2018 di Umbulan 3 Pasuruan, Lampung, Toba 1 dan Katulampa.
 
Sementara itu, dua proyek lain yang juga diatur lelangnya yaitu pengadaan pipa high density polyethylene (HDPE) di Bekasi dan daerah bencana di Donggala, Palu, Sulawesi Tengah. Lelang diatur sedemikian rupa untuk dimenangkan oleh PT WKE dan PT TSP.
 
Anggiat diduga menerima fee untuk pemulusan proyek-proyek itu sebesar Rp850 juta dan USD5 ribu. Meina menerima Rp1,42 miliar dan USD22 ribu. Nazar menerima Rp2,9 miliar dan Donny menerima 170 juta.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif