Ilustrasi. Foto: MI
Ilustrasi. Foto: MI

Jaksa Pertimbangkan Banding Vonis Ringan Romahurmuziy

Nasional OTT Romahurmuziy
Fachri Audhia Hafiez • 21 Januari 2020 08:59
Jakarta: Jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mempertimbangkan banding atas vonis ringan kepada Muhammad Romahurmuziy alias Romi. Dia dijatuhi hukuman dua tahun penjara oleh hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), setengah dari tuntutan empat tahun bui JPU KPK.
 
"Apakah nanti kita akan menerima putusan atau melakukan banding, nanti kita akan sampaikan dalam persidangan tujuh hari ke depan," kata JPU KPK Wawan Yunarwanto di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin, 20 Januari 2020.
 
Berdasarkan fakta persidangan, Romi terbukti menerima Rp50 juta yang berasal dari Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Muafaq Wirahadi. Namun, hakim berpendapat lain dan menyebut penerimaan itu tak terbukti.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Menjadi tidak nyambung ketika hakim menyatakan 'oleh karena tak dinikmati terdakwa, kemudian dinyatakan tak terbukti'. Itu yang menurut kami ada fakta yang tidak nyambung antara fakta yang terbukti dan pertimbangan putusan," jelas Wawan.
 
JPU KPK juga mempersoalkan barang dan uang yang disita dari ruang kerja mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Menurut Wawan, ada amplop berisi uang yang berkaitan dengan perkara Romi. Namun, majelis hakim meminta sitaan itu dikembalikan.
 
"Tapi uang yang berada di Pak Menteri Agama dan uang yang dibawa Amin Nuryadi (Staf Romi), di tasnya Amin itu ada amplop yang diduga milik terdakwa itu yang dikembalikan juga," ujar Wawan.
 
Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menghukum Romi dua tahun pidana penjara serta denda Rp100 juta subsider tiga bulan kurungan. Hukuman ini lebih rendah dari tuntutan sebesar empat tahun penjara serta denda Rp250 juta subsider lima bulan kurungan.
 
Tuntutan pencabutan hak dipilih dalam jabatan publik Romi juga ditolak majelis hakim.
 
Romy terbukti menerima suap dari Muafaq dan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin. Dia juga terbukti melakukan intervensi sehingga Haris dan Muafaq lolos dalam seleksi pejabat tinggi pratama Kemenang.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif