Amien Rais di Polda Metro Jaya. (Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana)
Amien Rais di Polda Metro Jaya. (Foto: Medcom.id/Siti Yona Hukmana)

Buku 'Jokowi People Power' Buktikan Bukan Tindakan Pidana

Nasional amien rais kasus makar
Siti Yona Hukmana • 25 Mei 2019 02:26
Jakarta: Anggota Dewan Pembina Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Amien Rais memperlihatkan buku 'Jokowi People Power' ke penyidik Polda Metro Jaya. Tujuannya, untuk membuktikan bahwa people power itu bukan haram atau bisa dipidana.
 
"Ditunjukkan ke penyidik kalau istilah people power itu bukan barang yang haram dalam politik. Sudah banyak orang yang menyebutkan termasuk Jokowi sendiri dalam bukunya. Jadi, istilah people power itu bukan makar," kata Kuasa Hukum Amien Rais, Ahmad Yani kepada Medcom.id di Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019.
 
Yani mengatakan, masyarakat dapat membeli buku itu di Gramedia. Penerbit buku itu juga merupakan Gramedia. "Buku itu sebagai contoh. Ada kok di Gramedia. Enggak tahu sekarang apa sudah habis," ujarnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski demikian, Yani mengaku kesaksian Amien Rais bukan untuk meringankan atau memberatkan tersangka dugaan makar Eggi Sudjana. Namun, hanya menegaskan bahwa people power bukan haram dilakukan melainkan hak.
 
"Apalagi people power itu adalah gerakan damai. Pak Amien juga menceritakan perubahan dari orde lama ke orde baru itu pakai people power, orde baru ke reformasi itu juga pakai people power," terang Yani.
 
Hal demikian disampaikan Amien Rais terhadap penyidik Sub Direktorat Keamanan Negara (Subditkamneg) Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Pertanyaan people power merupakan salah satu dari 37 pertanyaan yang disampaikan penyidik.
 
"Itu disampaikan Pak Amien saat penyidik mempertanyakan apa yang dimaksud people power," pungkas Yani.
 
Eggi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan makar pada Selasa, 7 Mei 2019. Penyidik menemukan sejumlah alat bukti yang cukup untuk Eggi, di antaranya video Eggi yang menyuarakan people power dan pemberitaan di media daring.
 
Penyidik juga memeriksa enam saksi dan empat ahli. Keterangan tersebut kemudian dicocokkan dengan barang bukti dan dokumen yang telah disita.
 
Setelah penetapan tersangka, penyidik meringkus Eggi, Selasa, 14 Mei 2019. Penangkapan dilakukan agar Eggi tidak menghindari panggilan pemeriksaan. Pasalnya, Eggi sempat menolak diperiksa. Dia meminta polisi memerika saksi dan ahli yang diajukan pihaknya.
 
Eggi juga mengajukan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Saat diperiksa, dia juga emoh memberikan telepon genggamnya kepada penyidik.
 
Eggi ditahan di Direktorat Tahanan dan Barang Bukti (Dit Tahti) Polda Metro Jaya untuk 20 hari ke depan.
 
Eggi disangka melanggar Pasal 107 KUHP dan atau 110 KUHP juncto Pasal 87 KUHP dan atau Pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 dan atau Pasal 15 Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana.
 
Dia diduga melakukan kejahatan terhadap keamanan negara atau makar, menyiarkan suatu berita yang dapat menimbulkan keonaran di kalangan masyarakat, atau menyiarkan kabar yang tidak pasti. Ancamannya penjara seumur hidup.
 

(EKO)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif