Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (1/11). Foto: MI/Adam Dwi
Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (1/11). Foto: MI/Adam Dwi

KPK Perpanjang Penahanan Eks Dirut Garuda

Nasional emirsyah satar tersangka
Fachri Audhia Hafiez • 01 November 2019 21:32
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang masa penahanan mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar (ESA). Tersangka suap pengadaan pesawat itu bakal mendekam di tahanan selama 30 hari dimulai pada 5 November 2019.
 
"Perpanjangan penahanan selama 30 hari, sampai 4 Desember 2019," kata juru bicara KPK Febri Diansyah, Jakarta, Jumat, 1 November 2019.
 
Sebelumnya KPK juga telah menyampaikan perpanjangan masa tahanan Pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA), Soetikno Soetardjo. Masa penahanan dia serupa dengan Emirsyah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


KPK menetapkan Emirsyah Satar bersama Soetikno dan mantan Direktur Teknik dan Pengelola Armada Garuda Indonesia, Hadinoto Soedigno. Ketiganya diduga menerima sejumlah uang dari Rolls-Royce atas pengadaan pesawat tahun anggaran 2008-2013.
 
Emirsyah dan Soetikno menerima suap dan aset lebih dari USD4 juta atau setara dengan Rp52 miliar dari perusahaan asal Inggris itu. Suap diberikan melalui Soetikno dalam kapasitasnya sebagai pengendali utama atau beneficial owner Connaught International Pte Ltd.
 
Suap terjadi selama Emirsyah menjabat sebagai direktur utama PT Garuda Indonesia pada 2005 hingga 2014. Dia juga disinyalir menerima suap terkait pembelian pesawat dari Airbus.
 
Dari hasil pengembangan, Emirsyah dan Soetikno kembali ditetapkan sebagai tersangka kasus pencucian uang. Emirsyah diduga membeli rumah di Pondok Indah senilai Rp5,79 miliar.
 
Dia juga diduga mengirimkan uang ke rekening perusahaannya di Singapura sebanyak USD680 ribu atau setara Rp9,57 miliar dan EUR1,02 juta setara Rp15,78 miliar. Fulus itu salah satunya untuk melunasi apartemennya di Singapura seharga SGD1,2 juta (Rp12,26 miliar). Uang itu diduga dari hasil suap pengadaan pesawat di perusahaan pelat merah tersebut.
 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif