Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kominfo melaksanakan Dialog Interaktif Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan (Foto:Dok.Kominfo)
Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kominfo melaksanakan Dialog Interaktif Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan (Foto:Dok.Kominfo)

Kasus Kekerasan Masih Tinggi, Kominfo Dorong Perlindungan terhadap Perempuan

Rosa Anggreati • 08 Maret 2022 19:31
Jakarta: Kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran terhadap hak asasi perempuan. Data yang diterbitkan oleh WHO (2018) menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 (35 persen) perempuan di seluruh dunia telah mengalami kekerasan. 
 
Data Simfoni Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak periode 1 Januari - 9 Desember 2021 juga memperlihatkan terdapat 7.693 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia.
 
Dalam rangka memberikan pemahaman dan informasi mengenai pencegahan dan penanganan kekerasaan terhadap perempuan, Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Komunikasi dan Informatika telah melaksanakan Dialog Interaktif Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dengan tema “Lindungi Perempuan Indonesia Untuk Indonesia Maju”. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indonesia sebetulnya telah memiliki berbagai aturan hukum dan kebijakan untuk melindungi perempuan dari kekerasan berbasis gender seperti Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT. Namun, hal ini belum cukup untuk menurunkan kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. 
 
Dalam dialog TV Drs. Wiryanta M.A, Ph.D, Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia & Kebudayaan menyampaikan bahwa Kementerian Kominfo siap mendukung RUU Tindak Pidana Perlindungan Kekerasaan Seksual sebagai upaya perlindungan perempuan Indonesia dalam rangka menuju Indonesia Kuat melalui tugas dan fungsi yang ada di DJIKP serta Kementerian Kominfo melalui program Digital Talent Scholarship melakukan pemberdayaan perempuan Indonesia. 
 
“Juga melalui program Gerakan Nasional Literasi Digital melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait pencegahan agar terhindar dari hoaks atau berita bohong," kata Wiryanta.
 
Sementara itu, Kepala DP3AP2KB Provinsi Jawa Tengah Dra. Retno Sudewi, Apt, M.Si., M.M menjelaskan Semarang sudah punya Perda terkait pencegahan dan penanganan mengenai perempuan dan perlindungan anak, bahkan ada Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak. 
 
“Masyarakat juga dapat mengadukan laporan atas kejadian yang terjadi di Jawa Tengah.  Selain itu juga terdapat Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) yaitu tempat di mana kami dapat menjelaskan secara detail sistem menyampaikan laporan sehingga korban dapat menyampaikan laporan tanpa takut akan hal lainnya seperti malu ataupun aib, tidak diberikan nafkah, karena dari data bahwa memang pelaku kebanyakan dari kerabat dekat,” tutur Retno.
 
Tak hanya itu, Perda di Jawa Tengah pun sudah mulai fokus pada pencegahan hingga penanganan. "Dalam pencegahan kita membangun awareness untuk pelaporan dan mengembangkan desa ramah anak dan perempuan," kata Retno.
 
Terkait tingginya angka kekerasan terhadap perempuan, Wakil Ketua Komnas Perempuan Olivia Chadidjah Salampessy memaparkan data kekerasan perempuan menunjukkan banyak terjadi kekerasan fisik, sedangkan pada anak persentase terbesar adalah kekerasan seksual.
 
“Saat ini pasti semuanya dekat dengan media sosial, kita harus pintar-pintar menggunakan media sosial, sebagai contoh ada kekerasan yang terjadi karena hubungan toxic melalui media sosial, karena akan dapat berujung ancaman dan sebagainya,” ujar Olivia.
 
Dalam sesi terakhir Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia & Kebudayaan, Kementerian Kominfo, Wiryanta, mengajak masyarakat untuk tidak dengan mudah menyebarkan konten yang dapat melukai dan merugikan perempuan dan anak baik secara psikologis dan psikis. Tidak hanya menyasar anak muda, kekerasan ini bisa terjadi terhadap siapa saja.
 
”Karena berdasarkan data, KBGO terjadi mulai dari anak umur 5 tahun hingga usia lanjut 80 tahun, walaupun paling banyak terjadi pada usia produktif,” kata Wiryanta.
 
(ROS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif