Plt juru bicara KPK, Ali Fikri. Medcom.id/Candra Yuri Nuralam
Plt juru bicara KPK, Ali Fikri. Medcom.id/Candra Yuri Nuralam

Diduga Samarkan Uang Suap, KPK Usut Keterlibatan Keluarga Mardani

Juven Martua Sitompul • 02 Agustus 2022 14:31
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan bakal menyeret semua pihak yang terlibat dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi izin usaha pertambangan (IUP) di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (Kalsel). Termasuk, keluarga tersangka Mardani H Maming.
 
Ini ditegaskan KPK menanggapi dugaan Mardani memakai sejumlah nama keluarganya untuk menyamarkan uang suap dan gratifikasi di PT Batulicin Enam Sembilan. Dalam data pemegang saham yang beredar, disebutkan PT Batulicin Enam Sembilan dimiliki oleh Siti Maryani dengan jumlah 24.386 lembar saham sebesar Rp12.193.000.000. Siti Maryani merupakan ibu dari Mardani.
 
Selain Siti Maryani, nama adik Mardani, yakni Rois Sunandar tercatat menjabat sebagai Direktur PT Batulicin Enam Sembilan dengan jumlah lembar saham sebanyak 15.243 sebesar Rp7.621. 500.000. Sedangkan, Mardani tercatat sebagai Komisaris PT Batulicin Enam Sembilan dengan jumlah lembar saham sebanyak 21.340 sebesar Rp10.670.000.000.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami pastikan siapa pun yang diduga mengetahui perbuatan tersangka akan kami panggil sebagai saksi," kata juru bicara KPK Ali Fikri kepada Medcom.id, Jakarta, Selasa, 2 Agustus 2022.
 
Mardani disebut menerima uang Rp89 miliar dalam kasus rasuah ini. Uang tersebut diterima Mardani melalui perusahaan PT Permata Abadi Raya (PAR) dan PT Trans Surya Perkasa (TSP). Mardani tercatat sebagai pemegang saham mayoritas PT PAR sejak 8 Juli 2021.
 
Nama kakak Mardani, yaitu Syafruddin sebagai direktur dengan kepemilikan saham 340 lembar sebesar Rp170 juta. PT PAR dimiliki mayoritas oleh PT Batulicin Enam Sembilan Pelabuhan sejak 13 Oktober 2015 hingga 8 Juli 2021.
 
Kepemilikan saham itu pertama kali terungkap dalam kesaksian Christian Soetio yang merupakan adik mantan Direktur Utama PT Prolindo Cipta Nusantara (PCN), Henry Soetio. Saat itu, dia dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan kasus suap dengan terdakwa Kepala Dinas ESDM Kabupaten Tanah Bumbu, Raden Dwidjono Putrohadi Sutopo di Pengadilan Tipikor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat, 13 Mei 2022.
 
Ali berjanji akan meminta keterangan pihak-pihak yang mengetahu ihwal rasuah Mardani. Termasuk, keluarga Mardani yang disebut sebagai mayoritas pemilik saham dari PT Batulicin Enam Sembilan.
 
"Pemeriksaan pihak sebagai saksi-saksi tergantung pada kebutuhan pemeriksaan," kata Ali.
 

Baca: KPK Diyakini Tak Kesulitan Buktikan Rasuah Mardani Maming


Komisi Antirasuah meminta para saksi yang nantinya diagendakan untuk diperiksa penyidik bersikap kooperatif. Para saksi diharap memberikan keterangan dengan jujur untuk membuat terang praktik amis yang dilakukan Mardani.
 
"Untuk itu para saksi agar koperatif hadir dan jujur menerangkan yang diketahuinya dihadapan tim penyidik," tegas dia.
 
Mardani merupakan tersangka tunggal dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait izin usaha pertambangan di Kabupaten Tanah Bumbu. Pengendali PT PCN Henry Soetio terbebas dari jeratan hukum sebagai pemberi suap karena sudah meninggal.
 
Mardani juga diyakini sudah berkali-kali menerima duit dari Hendry dalam kurun waktu 2014 sampai 2020. Beberapa duit yang diterima diambil oleh orang kepercayaannya atau masuk dari perusahaan Mardani. Totalnya mencapai Rp104,3 miliar.
 
Mardani disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif