Syafruddin Klaim Berjasa Bereskan Ekonomi Indonesia

Damar Iradat 13 September 2018 19:04 WIB
kasus blbi
Syafruddin Klaim Berjasa Bereskan Ekonomi Indonesia
Terdakwa mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung - MI/Bary Fathahilah.
Jakarta: Terdakwa mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung mengklaim telah banyak berjasa dalam memperbaiki kondisi ekonomi pasca terpuruk dari kondisi krisis ekonomi 1998. Ia memohon majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta untuk mempertimbangkan hal tersebut.

Syafruddin menuturkan, BPPN dibentuk untuk untuk melakukan penyehatan perbankan dan pemulihan ekonomi Indonesia akibat krisis ekonomi dan moneter tahun 1997. Menurutnya, pada waktu BPPN ditutup April 2004, telah terjadi perbaikan indikator ekonomi dan moneter.

"Pertumbuhan ekonomi pada tahun 1997 minus 17%, pada tahun 2004 telah tumbuh di atas 4,5%. Selain itu, tingkat inflasi tahun 1997 sebesar 80%, tahun 2004 telah menurun di bawah 10%," tutur Syafruddin saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 13 September 2018.


Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat yang sempat melemah di atas Rp15.000/US$ pada tahun 1997 menguat di bawah Rp9.000/US$ pada tahun 2004. Ia juga menuturkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menyentuh di bawah 400 pada masa krisis, pada tahun 2004 telah meningkat lebih dari 200% ke level di atas 800.

Menurut dia, semua perbaikan indikator ekonomi tersebut juga telah diakui oleh saksi-saksi yang hadir dalam persidangan, antara lain, mantan Menteri Koordinator Perekonomian Dorojatun Kuntjoro-Jakti, mantan Menteri Keuangan Boediono, dan mantan Dirut BNI Sigit Pramono. Ia juga menyinggung ihwal pembubaran BPPN oleh pemerintah. 

Menurutnya, pada 2004 pemerintah membubarkan BPPN dengan menimbang bahwa telah terselesaikannya sebagian besar secara pokok tugas-tugas penyelesaian penyehatan perbankan nasional dan telah mulai membaiknya kondisi makro perekonomian Indonesia.

"Dengan demikian pemerintah tahun 2004 telah mengakui bahwa kondisi sistem perbankan sudah sehat dan ekonomi sudah pulih dari krisis karena BPPN di bawah kepemimpinan kami, serta dipayungi oleh kebijakan dan arahan KKSK," tutur dia. 

(Baca juga: Syafruddin Keberatan Didakwa Memperkaya Sjamsul Nursalim)

Syafruddin menambahkan, selama dua tahun menjabat sebagai Kepala BPPN, ia dapat menyelesaikan 95 persen tugas-tugas BPPN dan hasilnya bank-bank semakin sehat. Selain itu, semua indikator moneter dan ekonomi mengalami perbaikan yang berarti dan ekonomi tumbuh di atas 4,5% pertahun.

"Majelis Hakim Yang Mulia, saya mohon kontribusi saya dalam pembangunan Nasional tersebut, termasuk hasil kerja di BPPN yang telah dapat menyehatkan sistem perbankan nasional dan memulihkan perekonomian Indonesia dapat Majelis pertimbangkan seadil-adilnya dalam memutuskan perkara yang kami hadapi ini," tukas dia. 

Syafruddin Arsyad Temenggung sebelumnya dituntut hukuman 15 tahun penjara. Ia juga diwajibkan membayar denda Rp1 miliar subisder enam bulan kurungan.

Syafruddin selaku Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dinilai terbukti melakukan perbuatan melanggar hukum dengan memperkaya orang lain, korporasi atau diri sendiri. Akibatnya negara merugi Rp4,58 triliun atas perbuatannya.

Dalam kasus ini, Syafruddin dinilai telah melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.





(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id