Penyidik menunjukkan barang bukti benih lobster yang disita dari tersangka MTC, HA, BC, dan TCY. (Foto: Medcom.id/Cindy)
Penyidik menunjukkan barang bukti benih lobster yang disita dari tersangka MTC, HA, BC, dan TCY. (Foto: Medcom.id/Cindy)

Dua Tersangka Penyelundupan Benih Lobster Bermukim di Singapura

Nasional penyelundupan lobster
Cindy • 11 Juli 2019 16:18
Jakarta:Subdit IV Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipiter) Bareskrim Polrimenangkap dua tersangka penyelundupan benih lobster yang bermukim di Singapura. Keduanya ialah BC dan TY.
 
"Kita memancing mereka (BC dan TY) yang ada di Singapura untuk datang ke Indonesia, terutama Batam. Bersama tersangka lain kita melakukan penangkapan," ujar Kasubdit IV Dittipiter Bareskrim Polri Kombes Parlindungan Silitongadi Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis 11 Juli 2019.
 
Penyelundupan benih lobster senilai Rp17 miliar digagalkan. Sebanyak enam tersangka, MTC, HA, G, DR, DP dan JP, ditangkap dalam kasus ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sebanyak 113.412 ekor benih lobster berhasil diamankan," lanjut Parlindungan.
 
Ia memerinci lobster yang hendak diselundupkan berjenis mutiara dan pasir. Kronologis pengungkapan berawal dari informasi jual beli benih lobster di Bengkulu pada 1 Juli 2019. Rencananya, benih dikirim ke Singapura via Jambi dan Batam.
 
Baca juga: Penyelundupan Benih Lobster Senilai Rp17 Miliar Digagalkan
 
Tim Bareskrim Polri bersama Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Provinsi Jambi lantas melakukan pengamatan jalur yang dilalui tersangka. 3 Juli 2019 sekitar pukul 00.15 WIB, tim mengadang dua kendaraan mini bus yang diduga mengangkut benih-benih lobster.
 
Hasil penyelidikan, Parlindungan menyebut MTC sebagai pemilik benih lobster, HA merupakan pendamping, dan G sopir rental kendaraan. Kemudian DR, DP, dan JP bertugas sebagai sopir pengangkut benih lobster. Kasus berkembang hingga penangkapan BC dan TY yang menunggu di Singapura.
 
Selain benih lobster, polisi mengamankan barang bukti lain, di antaranya dua unit mobil, satu tabungan atas nama MTC, serta empat unit telepon genggam. Para tersangka dijerat Pasal 88 juncto Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dengan ancaman penjara paling lama enam tahun dan denda maksimal Rp 1,5 miliar.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif