Pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri. Foto: Medcom.id/Arga Sumantri
Pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri. Foto: Medcom.id/Arga Sumantri

KPK Dapat Dukungan Internasional untuk Selesaikan Kasus Garuda Indonesia

Nasional emirsyah satar tersangka
Candra Yuri Nuralam • 09 Februari 2020 10:02
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendapat dukungan internasional untuk menyelesaikan penanganan kasus dugaan suap pada pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Dukungan itu berupa kesepakatan Deferred Prosecution Agreement (DPA) antara lembaga antikorupsi Inggris, Serious Fraud Office (SFO) dan Airbus SE.
 
Pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri menjelaskan dalam kesepakatan DPA, SFO bersedia menunda proses penuntutan pidana terhadap Airbus SE. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi Airbus SE.
 
"Syaratnya, Airbus SE bersedia bekerja sama penuh dengan penegak hukum mengakui perbuatan, membayar denda, dan melakukan program reformasi dan tata kelola perusahaan," ujar Ali di Jakarta, Minggu, 8 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ali mengatakan Airbus SE bersedia membayar denda sejumlah EUR991 juta kepada pemerintah Inggris. Jumlah tersebut merupakan bagian dari kesepakatan global sebesar EUR3,6 miliar yang dibayarkan Airbus SE kepada pemerintah Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat.
 
Ali menilai kesepakatan ini mempermudah KPK menguak kasus dugaan rasuah di Garuda Indonesia. Ali optimistis KPK segera menyelesaikan penanganan kasus dugaan suap ini.
 
"KPK yakin DPA akan memperkuat alat bukti dalam penyidikan dan penuntutan perkara dugaan suap terkait dengan pengadaan mesin pesawat PT Garuda Indonesia," tutur Ali.
 
KPK Dapat Dukungan Internasional untuk Selesaikan Kasus Garuda Indonesia
Ilustrasi. FOTO: MI/Amiruddin Abdullah
 
KPK sudah menetapkan mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar, mantan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia Hadinoto Soedigno, dan pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA) sekaligus beneficial owner Connaught International Pte Ltd, Soetikno Soedarjo sebagai tersangka.
 
Emirsyah diduga menerima suap dari Soetikno sebesar EUR1,2 juta dan USD180 ribu atau setara Rp20 miliar. Dalam penyidikan, KPK menyebut uang suap yang diberikan Soetikno kepada Emirsyah dan Hadinoto tidak hanya berasal dari perusahaan AirBus SAS dan Rolls-Royce.
 
Ada juga kontrak pembelian pesawat ATR 72-600 dengan perusahaan Avions de Transport Regional (ATR). Kontrak pembelian pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan perusahaan Bombardier Aerospace Commercial Aircraft.
 
Selaku konsultan bisnis dari Rolls-Royce, Airbus dan ATR, Soetikno diduga menerima komisi dari tiga pabrikan tersebut. Soetikno juga diduga menerima komisi dari perusahaan Hong Kong, Hollingsworth Management Limited International Ltd (HMI), yang menjadi sales representative dari perusahaan Bombardier.
 
Pembayaran komisi tersebut diduga terkait keberhasilan Soetikno membantu tercapainya kontrak antara PT. Garuda Indonesia dan empat pabrikan tersebut. Soetikno selanjutnya memberikan sebagian dari komisi tersebut kepada Emirsyah dan Hadinoto.
 
Dari hasil pengembangan, Emirsyah dan Soetikno kembali ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pencucian uang. Emirsyah diduga membeli rumah di Pondok Indah senilai Rp5,79 miliar.
 
Dia juga diduga mengirimkan uang ke rekening perusahaannya di Singapura sebanyak USD680 ribu atau setara Rp9,57 miliar dan EUR1,02 juta setara Rp15,78 miliar. Fulus itu salah satunya untuk melunasi apartemennya di Singapura SGD1,2 juta (Rp12,26 miliar). Uang itu diduga dari hasil suap pengadaan pesawat di perusahaan pelat merah tersebut.
 

 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif