Jaksa Agung HM Prasetyo. Medcom.id/ Sunnaholomi Halakrispen
Jaksa Agung HM Prasetyo. Medcom.id/ Sunnaholomi Halakrispen

Kejagung Masih Akan Periksa Eks Dirut Pertamina sebagai Saksi

Nasional Kasus hukum Karen Galaila
Sunnaholomi Halakrispen • 22 September 2018 05:50
Jakarta: Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan empat tersangka terkait kasus dugaan korupsi investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia pada 2009, salah satunya eks Dirut PT Pertamina Karen Galaila Agustiawan. Jaksa Agung HM Prasetyo mengatakan Karen masih akan diperiksa sebagai saksi.
 
"Karen sebagai saksi. Nanti tunggu saja kapan akan dipanggil sebagai tersangka, nanti penyidik yang tahu agendanya mereka yang menentukan," ujar Prasetyo di kantornya, Kejaksaan Agung RI, Jakarta Selatan, Jumat, 21 September 2018.
 
Karen diperiksa sebagai saksi lantaran masih dibutuhkannya keterangan mendalam untuk tersangka lainnya. Prasetyo pun menyatakan pihaknya tidak membiarkan kasus itu berlarut dan terus mendalami proses penanganan perkara tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Masih lanjut, dalam proses. Sudah dua orang yang dilakukan upaya paksa, namanya Bayu Kristanto (eks Manager Merger dan Investasi pada Direktorat Hulu PT Pertamina), satu lagi Frederik Siahaan (eks Direktur Keuangan PT Pertamina). Nanti ada tahapan-tahapan berikutnya," pungkas dia.
 
Karen terakhir diperiksa Kejagung pada Rabu, 12 September 2018. Ia diperiksa sebagai saksi untuk tiga tersangka lain yakni Bayu Kristanto, Fredrik Siahaan, dan Genades Panjaitan selaku Chief Legal Council and Complience PT Pertamina.
 
Sementara itu, Kejagung menetapkan Karen sebagai tersangka pada 22 Maret 2018. Sejak itu, Karen sudah dua kali dipanggil untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka namun selalu mangkir.
 
Kasus tersebut terjadi pada 2009. Saat itu Pertamina melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengakuisisi saham sebesar 10 persen terhadap ROC Oil Ltd untuk menggarap Blok BMG.
 
Perjanjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Purchase BMG Project diteken pada 27 Mei 2009. Nilai transaksinya mencapai USD31 juta.
 
Akibat akuisisi tersebut, Pertamina harus menanggung biaya yang timbul lainnya (cash call) dari Blok BMG sebesar USD26 juta. Melalui dana yang dikeluarkan setara Rp568 miliar itu, Pertamina berharap Blok BMG bisa memproduksi minyak hingga 812 barrel per hari.
 
Namun Blok BMG hanya menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pte Ltd rata-rata sebesar 252 barel per hari. Pada 5 November 2010, Blok BMG ditutup, setelah ROC Oil memutuskan penghentian produksi minyak mentah. Alasannya blok ini tidak ekonomis jika diteruskan produksi.
 
Investasi yang sudah dilakukan Pertamina akhirnya tidak memberikan manfaat maupun keuntungan dalam menambah cadangan dan produksi minyak nasional. Akibatnya muncul kerugian keuangan negara dari Pertamina sebesar USD31 juta dan USD26juta atau setara Rp568 miliar.
 
Dua dari empat tersangka kasus ini sudah dibui, yakni Frederik Siahaan dan Bayu Kristanto. Sementara Karen dan Genades belum ditahan.
 

(SCI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif