Juru bicara KPK Febri Diansyah. MI/Rommy Pujianto
Juru bicara KPK Febri Diansyah. MI/Rommy Pujianto

Nasib Menpora Imam Bergantung Analisis Jaksa

Nasional OTT Pejabat Kemenpora
Juven Martua Sitompul • 13 Mei 2019 19:13
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih menunggu hasil analisis jaksa penuntut umum (JPU) untuk mengembangkan kasus dugaan suap dana hibah KONI dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Salah satunya membuka penyelidikan baru terkait keterlibatan Menpora Imam Nahrawi.
 
"Kebutuhan pengembangan menunggu bagaimana rekomendasi dan analisis dari JPU setelah putusan," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Senin, 13 Mei 2019.
 
KPK masih mengamati fakta yang muncul dalam persidangan. Semua fakta akan jadi pertimbangan penyidik untuk mencatat nama pihak yang disebut ke daftar bidikan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau beberapa perkara ditangani dalam persidangan atau perkara yang terpisah, prinsipnya pokok perkaranya tetap sama, sehingga semuanya akan kami dalami lebih lanjut," kata dia.
 
Pada persidangan hari ini, terungkap fakta baru. Mantan Bendahara Pengeluaran Pembantu Kemenpora, Supriyono mengaku pernah menyerahkan uang sebesar Rp400 juta kepada staf pribadi Menpora, Miftahul Ulum. Uang tersebut berasal dari pejabat KONI.
 
Supriyono mengaku diperintah oleh Mulyana dan Chandra Bakti yang merupakan pejabat pembuat komitmen (PPK) untuk mencarikan uang Rp400 juta. Supriyono menghubungi pejabat KONI untuk mendapatkan uang Rp400 juta yang diminta. Uang tersebut diakui sebagai uang pinjaman.
 
Setelah uang tersebut didapatkan, Supriyono menghubungi Ulum dan bertemu di depan masjid di Kantor Kemenpora. Supriypno kemudian melaporkan penyerahan uang tersebut kepada Mulyana.
 
Supriyono juga mengakui jika pemberian uang dari pejabat KONI kepada sejumlah pejabat Kemenpora rutin dilakukan sejak 2017. Menurut Supriyono, pemberian uang itu dilakukan setiap kali KONI mencairkan dana hibah yang diterima dari Kemenpora.
 
Kesepakatan fee tersebut sudah disepakati sejak awal. Adapun, penerima fee sebagian besar adalah pejabat Kemenpora yang berhubungan langsung dengan proposal permintaan dana hibah yang diajukan KONI.
 
Febri mengamini jika fakta baru yang muncul dalam persidangan hari ini telah dituangkan jaksa dalam berkas penuntutan terdakwa. Namun, Febri lagi-lagi menjawab diplomatis saat disinggung fakta persidangan jadi bukti kuat KPK menjerat pejabat Kemenpora yang terlibat, khususnya Imam.
 
"Nanti itu kan perlu menunggu gimana pertimbangan hakim melihat fakta-fakta tersebut," pungkasnya.
 
Pada persidangan sebelumnya, jaksa mengungkap terang keterlibatan Imam dalam kasus dugaan suap dana hibah KONI. Dalam surat tuntutan Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy dan Bendahara KONI Johny E Awuy, kedua terdakwa disebut memberikan uang sebanyak Rp11,5 miliar kepada Imam.
 
Uang itu diterima Imam melalui Ulum dan Staf Protokoler Kemenpora Arief Susanto. Dalam surat tuntutan itu juga disebut jika Imam dan Ulum terlibat dalam pemufakatan jahat dalam kasus suap tersebut.
 
Tak hanya itu, jaksa KPK meminta majelis hakim Pengadilan Tipikor mengesampingkan kelit Imam dan Ulum selama menjadi saksi dalam persidangan. Imam dan Ulum diketahui terus membantah menerima aliran uang haram tersebut.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif