Lambang KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Lambang KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Kantor KONI Digeledah Lagi

Nasional OTT Pejabat Kemenpora
Kautsar Widya Prabowo • 21 Desember 2018 21:54
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengeledah kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Penggeledahan berkaitan dengan penyidikan kasus dugaan suap terkait penyaluran bantuan Pemerintah melalui Kementerian Olahraga (Kemenpora) kepada KONI tahun anggaran 2018.
 
"Penggeledahan adalah ruang bidang keuangan, termasuk ruang bendahara di lantai 11 gedung KONI, dan juga ruang sekretariat jenderal di lantai 12 gedung KONI," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Yuyuk Andriati Iskak di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat, 21 Desember 2018.
 
Dari penggeledahan, kata Yuyuk, disita dokumen penting diduga bisa memperkuat penyidikan kasus tersebut. Namun, Yuyuk merinci dokumen apa yang disita.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Baru dokumen saja dan belum dijelaskan juga dokumen apa saja, yang jelas terkait dengan kasus," ujarnya.
 
Kantor KONI pernah digeledah pada Kamis, 20 Desember 2018. Kala itu, KPK juga menggeledah sejumlah ruangan di Kementerian Olahraga (Kemenpora). Ruang Menpora Imam Nahrawi juga turut digeledah lembaga antirasuah.
 
KPK telah menetapkan lima pejabat Kemenpora dan KONI sebagai tersangka dalam kasus ini. Kelima tersangka itu yakni Deputi IV Prestasi Olahraga Kementerian Olahraga (Kemenpora) Mulyana; Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy (EFH); Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy (JEA); Pejabat Pembuat Komitmen pada Kemenpora Adi Purnomo (AP) dan Staf Kementerian Pemuda Olahraga Eko Triyanto (ET).
 
Dalam kasus ini, Adi dan Eko diduga telah menerima uang suap sebanyak Rp318 juta dari Ending dan Jhony. Sedangkan, Mulyana telah menerima uang dalam beberapa tahap.
 
Pertama, pada Juni 2018 menerima satu unit mobil Toyota Fortuner. Kedua, uang sebesar Rp300 juta. Kemudian pada September 2018, menerima satu unit Samsung Galaxy Note 9. Suap itu diberikan agar dana hibah segera direalisasikan.
 
Atas perbuatannya, Ending dan Jhony selaku pemberi suap disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 
Sementara, Mulyana, Adhi Purnomo dan Eko selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 123 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah dlubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif