Penyidik KPK Novel Baswedan di lobi Gedung KPK, Rasuna Said, Jakarta. Foto: MI/Susanto
Penyidik KPK Novel Baswedan di lobi Gedung KPK, Rasuna Said, Jakarta. Foto: MI/Susanto

Novel yang Tak Nyaman dengan Persidangan

Nasional novel baswedan
Fachri Audhia Hafiez • 19 Mei 2020 07:13
Jakarta: Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan merasakan kejanggalan dalam persidangan kasus penyiraman air keras. Terlebih saat dia diperiksa sebagai korban di hadapan persidangan pada Kamis, 30 April 2020.
 
Novel mengeluhkan dakwaan yang tidak sesuai fakta peristiwa, peradilan tak objektif, tak adanya saksi penting, hingga motif kasus yang seolah ditarik ke motif pribadi. Ia khawatir adanya proses persidangan yang dimainkan dan berpotensi pada peradilan sesat.

Kekompakan persidangan

Novel menyebut terjadi kekompakan oleh beberapa pihak saat persidangan terdakwa penyiram air keras. Persidangan dinilai tidak sesuai untuk mengungkap fakta peristiwa.
 
"Karena persidangan itu harus dibuktikan. Tapi tiba-tiba seperti ada sesuatu kekompakan disana," kata Novel dalam diskusi virtual bertajuk 'Menyoal Persidangan Penyiraman Air Keras terhadap Novel Baswedan', Senin, 18 Mei 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satu yang disoroti Novel ialah cairan yang digunakan untuk penyerangan pada Selasa, 11 April 2017. Dalam dakwaan dua penyerang Novel, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette, cairan itu disebut merupakan asam sulfat (H2SO4) atau kerap disebut air aki.
 
"Saya melihat ada pesan disana gambaran penyerang itu menggunakan air aki untuk menyerang kepada diri saya. Hakim pun dalam beberapa perkataan mengatakan bahwa air aki yang digunakan," ucap Novel.
 
Novel sudah memastikan cairan tersebut bukanlah air aki. Aroma dan dampak yang ditimbulkan dari cairan yang disiram tersebut cukup serius.
 
Ia menambahkan saksi yang menolongnya saat penyerangan terjadi menghirup aroma sangat menyengat dari cairan itu. Sisa cairan dalam gelas dan botol yang digunakan pelaku juga mengeluarkan aroma sama.
 
Efek yang ditimbulkan dari cairan tersebut membuat beton di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) penyiraman melepuh. Cairan yang menempel di baju Novel juga tampak mengeluarkan asap.
 
Selengkapnya baca di sini

Pertanyaan jaksa aneh

Jaksa penuntut umum sempat melontarkan pertanyaan yang tidak terkait fakta peristiwa. Pertanyaan berupa analisis yang mesti dijawab Novel saat menghadiri persidangan dua terdakwa penyerangnya.
 
"Jaksa bertanya kepada saya pertanyaannya menurut saya aneh gitu. Walaupun itu bukan pertanyaan terkait dengan fakta tapi lebih kepada analisis tapi saya jawab," kata Novel.
 
Pertanyaan tersebut terkait analisis Novel ketika seorang penyidik didatangi oleh pelaku kejahatan. Jaksa menanyakan apa yang dilakukan Novel saat berada dalam posisi itu.
 
Novel mesti melihat dari dua perspektif. Pertama, ia akan uji keterangan pelaku dengan bukti-bukti.
 
"Karena saya harus melihat bahwa siapa tahu dia adalah orang yang insaf dan kemudian bertobat untuk mau mengakui dan kemudian menyesali dari perbuatannya itu," ujar Novel.
 
Kedua, Novel mengaku akan merasa khawatir ketika pelaku tersebut punya maksud atau tujuan lain. Misalnya, disuruh seseorang atau kelompok tertentu untuk pasang badan agar pelaku sebenarnya tidak terungkap.
 
"Hal yang kedua ini saya khawatirkan. Oleh karena itu saya bersama dengan kuasa hukum setelah persidangan dengan mengamati banyak hal-hal yang janggal," ucap Novel.
 
Selengkapnya baca di sini

Sebatas Pelaku Lapangan

Novel menduga arah persidangan digiring hanya selesai di pelaku lapangan. Tidak ada upaya dari hakim maupun jaksa untuk mengungkap fakta lain dari kasus penyerangan ini.
 
"Melihat dalam persidangan itu memang sepertinya sedang diarahkan untuk membuat suatu kesimpulan seolah-olah penyerangan kepada saya ini dilakukan dengan motif pribadi," ujar Novel.
 
Koordinator KontraS sekaligus anggota tim advokasi Novel, Yati Andriyani, mengatakan terdapat konflik kepentingan dalam kasus penyerangan terhadap Novel yang terjadi pada Selasa, 11 April 2017. Ia meyakini ada pihak yang berusaha menghalangi pengungkapan kasus.
 
Hal ini dibuktikan dengan perjalanan kasus yang terbilang lambat sejak awal penyelidikan. Yati mengungkapkan, rupanya saat persidangan ditemukan pula kejanggalan dan ketidakpatutan.
 
"Adanya invisible hand, yang menghalang-halangi pengungkapan kasus ini sangat jelas dampaknya hari ini dalam proses persidangan pun kita tidak bisa berharap banyak," ujar Yati.
 
Jaksa penuntut umum juga dinilai tidak mau mengungkap aktor intelektual bahkan mendakwa pelaku dengan ringan, dan diarahkan sebagai motif dendam pribadi. Jaksa juga disebut tidak menjadi representasi negara yang mewakili kepentingan korban, dalam hal ini Novel.
 
Majelis hakim yang mengadili terdakwa juga dipandang pasif. Menurut Yati, hakim tidak menyeluruh menggali pra atau pasca peristiwa.
 
"Praperistiwa ini adalah sekuel sangat penting untuk membuktikan bahwa kejahatan ini dilakukan secara sistematis dan terorganisir," ujar Yati.
 
Selengkapnya baca di sini
 
Ronny dan Rahmat didakwa melakukan penganiyaan berat kepada Novel secara bersama-sama dan direncanakan. Keduanya menyiramkan cairan asam sulfat (H2SO4) ke badan dan muka Novel.
 
Perbuatan Ronny dan Rahmat membuat Novel mengalami luka berat. Novel mengalami penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan, kerusakan pada selaput bening (kornea) mata kanan dan kiri. Luka itu berpotensi menyebabkan kebutaan atau hilangnya panca indera penglihatan.
 
Ronny dan Rahmat didakwa melanggar Pasal 355 ayat (1) atau 353 ayat (2) atau 351 ayat (2) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(AZF)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif