Suami dari Bupati nonaktif Kolaka Timur (Koltim) Andi Merya Nur, Mujeri Dachri Muchlis. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Suami dari Bupati nonaktif Kolaka Timur (Koltim) Andi Merya Nur, Mujeri Dachri Muchlis. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Bupati Nonaktif Koltim Cari Pelicin Muluskan Persetujuan Dana PEN

Fachri Audhia Hafiez • 07 Juli 2022 16:40
Jakarta: Suami dari Bupati nonaktif Kolaka Timur (Koltim) Andi Merya Nur, Mujeri Dachri Muchlis, mengungkap cerita dibalik suap persetujuan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021 untuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Koltim. Andi Merya berupaya cari pelicin untuk mendapatkan persetujuan dana PEN dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
 
"Ibu (Andi) sampaikan, Anto minta uang, terus saya jawab 'uang dari mana Bu?' Gitu Katanya 'kalau niat baik pasti ada'," kata Mujeri saat persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 7 Juli 2022.
 
Anto yang dimaksud adalah LM Rusdianto Emba yang merupakan adik Bupati Muna La Ode Muhammad Rusman. Rusdianto juga merupakan tersangka dalam perkara suap tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 

Baca: Hakim Ceramahi Pejabat Kemendagri Urus PEN Mestinya Tak Dipersulit

Menurut Mujeri, Anto meminta Andi Merya untuk memberikan uang keseriusan agar dana PEN untuk Koltim segera diproses. Uang keseriusan itu yakni nilai satu persen berasal dari total pinjaman dana PEN untuk Koltim.
 
Total pinjaman dana PEN yang disetujui sejumlah Rp151 miliar. Permintaan satu persen itu berarti sejumlah Rp1,5 miliar.
 
"Dari bahasanya (1 persen) ibu (Andi Merya) ke saya," ujar Mujeri.
 
Mujeri mengaku tidak pernah disuruh mengirimkan uang oleh istrinya senilai Rp1,5 miliar. Uang itu untuk mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Keuangan Daerah (Keuda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Mochamad Ardian Noervianto.
 
Sedangkan, dalam dakwaan disebutkan bahwa Andi meminta suaminya untuk mengirim uang ke Ardian melalui rekening Emba. "Ini bukan rekening saya. Yang mengirim ada orangnya ibu (Andi) namanya Rahmat, kirim Rp1,5 miliar yang saya tahu," ucap Mujeri.
 
Ardian Noervianto dan mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muna Laode M Syukur Akbar didakwa menerima suap sebesar Rp2,4 miliar. Uang itu dimaksudkan untuk melancarkan pengurusan dana PEN 2021 Pemkab Kolaka Timur.
 
Uang suap itu diberikan oleh Andi Merya Nur dan pengusaha LM Rusdianto Emba. Dalam perkara ini, Laode berperan meminta alamat dan nomor telepon ajudan Ardian untuk diberikan ke Andi agar pengurusan dana PEN Kolaka Timur makin lancar.
 
Usai diberikan uang suap itu, Ardian langsung memberikan pertimbangan kepada menteri dalam negeri agar usulan dana PEN Pemkab Kolaka Timur disetujui. Pertimbangan dari Kemendagri merupakan syarat agar pengajuan dana PEN disetujui.
 
Ardian dan Laode didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 Jo Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 
(DEV)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif