Dokter Toyibi Kaget Diberitakan Periksa Novanto
Setya Novanto saat dipindahkan dari RS Medika Permata Hijau ke RSCM - ANT/Wibowo Armando.
Jakarta: Dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau Mohammad Toyibi mengaku kaget disebut sebagai dokter yang menangani Setya Novanto. Pernyataan itu muncul dalam running text di salah satu televisi swasta pada 16 November 2017. Padahal, Toyibi mengaku, pada hari itu ia tidak menangani Novanto. 

"Sekitar Magrib ada breaking news, di situ dikatakan bahwa Setya Novanto mengalami kecelakaan dan dirawat di RS Medika Permata Hijau," tutur Toyibi saat bersaksi buat terdakwa Fredrich Yunadi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Kamis, 26 April 2018. 

Ia mengaku terus memantau perkembangan informasi terkait kecelakaan Novanto itu. Kemudian, sekitar pukul 21.00 WIB, ia melihat running text di salah satu televisi yang menyebut dirinya menangani mantan Ketua DPR RI itu.


"Sekitar jam 21.00 ada running text yang mengatakan bahwa pasien ini dirawat oleh dokter spesialis jantung, sementara di RS itu hanya saya sebagai dokter spesialis jantung," tutur dia. 

(Baca juga: Bimanesh Diminta Ikuti Skenario Kecelakaan Novanto)

Selepas itu, sekitar pukul 23.00 WIB, ia dihubungi oleh salah satu perawat di RS Medika. Sang perawat baru meminta Toyibi untuk memeriksa Novanto.

"Ada yang minta saya dari perawat untuk memeriksa keadaan SN, tidak tahu siapa namanya," ucap Toyibi.

Mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi sebelumnya didakwa bekerja sama dengan Bimanesh Sutarjo untuk menghindarkan Novanto diperiksa dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi KTP-el. Ia disebut menyarankan agar Novanto tidak memenuhi panggilan KPK.

Fredrich diduga meminta Bimanesh untuk merekayasa hasil pemeriksaan kesehatan Novanto. Saat itu, Novanto memang tengah diburu oleh KPK lantaran tak juga memenuhi panggilan komisi antirasuah tersebut.

Atas perbuatannya, Fredrich didakwa dengan Pasal 21 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP.
 




(REN)