Juru bicara KPK Febri Diansyah - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Juru bicara KPK Febri Diansyah - Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Peran Staf Pribadi Imam Nahrawi Ditelisik

Nasional OTT Pejabat Kemenpora
Fachri Audhia Hafiez • 04 Januari 2019 07:23
Jakarta: Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengaku pihaknya tengah mendalami peran Miftahul Ulum, staf pribadi Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Ini terkait penyidikan dugaan suap penyaluran bantuan dari Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tahun anggaran 2018.
 
"KPK mendalami bagaimana posisi dan peran saksi di Kemenpora," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Kamis, 3 Januari 2019.
 
Kemarin, Miftahul diperiksa penyidik KPK. Selain Miftahul, KPK juga memeriksa staf bagian perencanaan KONI, Twisyono dan staf bidang perencanaan KONI, Suradi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Febri membeberkan dalam pemeriksaan Miftahul juga ditanya terkait hubungan pekerjaan dengan Imam. "Apakah sebagai pegawai resmi, setingkat apa, dan bagaimana hubungan pekerjaannya dengan Menpora," beber Febri.
 
KPK sebelumnya menetapkan Deputi IV Prestasi Olahraga Kemenpora Mulyana sebagai tersangka. Dia ditetapkan bersama empat orang lainnya pascatertangkap tangan, Selasa, 18 Desember 2018.
 
(Baca juga:Korupsi Dana Hibah Masuk Rekening Pejabat Kemenpora)
 
Mereka ialah Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy; Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy; Pejabat Pembuat Komitmen pada Kemenpora Adi Purnomo; dan Staf Kementerian Pemuda Olahraga Eko Triyanto. Adi dan Eko diduga menerima suap Rp318 juta dari Ending dan Jhony.
 
Sedangkan Mulyana menerima uang dalam beberapa tahap. Pada Juni 2018, ia menerima satu unit mobil Toyota Fortuner. Ia juga menerima uang Rp300 juta.
 
Pada September 2018, Mulyana menerima satu unit Samsung Galaxy Note 9. Suap itu diberikan agar dana hibah segera direalisasikan.
 
Ending dan Jhony selaku pemberi suap disangka melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 
Sedangkan Mulyana, Adhi Purnomo, dan Eko selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 123 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah dlubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 
(Baca juga:Dokumen Penting Disita dari Ruang Imam Nahrawi)

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif