Suasana sidang dakwaan Mantan General Manager (GM) Divisi Gedung PT Hutama Karya (Persero) Budi Rachmat Kurniawan. Medcom.id/Fachrie Audhia Hafiez
Suasana sidang dakwaan Mantan General Manager (GM) Divisi Gedung PT Hutama Karya (Persero) Budi Rachmat Kurniawan. Medcom.id/Fachrie Audhia Hafiez

Eks Petinggi Hutama Karya Didakwa Korupsi Rp56 Miliar

Nasional kasus korupsi hutama karya
Fachri Audhia Hafiez • 20 Maret 2019 20:13
Jakarta: Mantan General Manager (GM) Divisi Gedung PT Hutama Karya (Persero) Budi Rachmat Kurniawan didakwa merugikan negara dalam perkara korupsi pembangunan gedung kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) di dua wilayah Sumatera. Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK) Wawan Yunarwanto menyebut negara dirugikan Rp56,913 miliar.
 
"Telah melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan sendiri -sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, sebagai orang yang melakukan atau yang turut serta melakukan perbuatan secara melawan hukum," kata Wawan di Pengadilan Tipikor, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Maret 2019.
 
Total kerugian itu bila dirinci merupakan bagian dari pembangunan Gedung Kampus IPDN Riau di Kabupaten Rokan Hilir sebanyak Rp22,109 miliar. Kemudian, dari pembangunan Gedung Kampus IPDN Sumatera Barat di Kabupaten Agam senilai Rp34,804 miliar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jumlah tersebut sebagaimana laporan hasil pemeriksaan investigatif dalam rangka penghitungan kerugian negara atas pengadaan dan pelaksanaan pekerjaan konstruksi," jelas Wawan.
 
Budi dinilai melakukan pengaturan dalam proses pelelangan untuk memenangkan PT Hutama Karya memasukkan Arranger Fee dalam komponen Anggaran Biaya Lelang (ABL). Komponen itu untuk diberikan kepada pihak-pihak terkait pelelangan dan untuk kepentingan pribadi. Budi juga dinilai bersalah lantaran menandatangani kontrak meskipun mengetahui terdapat rekayasa dalam pelelangan.
 
Dalam hal itu, kata Jaksa, Budi juga melakukan subkontrak pekerjaan utama tanpa persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), dan membuat pekerjaan fiktif untuk menutup biaya Arranger Fee.
 
"Kemudian menerima pembayaran seluruhnya atas pelaksanaan pekerjaan meskipun pelaksanaan pekerjaan belum selesai 100 persen atas proyek pembangunan Gedung Kampus IPDN di Kabupaten Agam atau Bukittinggi, Sumatera Barat pada Kemendagri dan IPDN Kabupaten Rokan Hilir, Riau pada Kemendagri," beber Wawan.
 
Budi juga didakwa telah melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi. Budi sendiri memperkaya diri seluruhnya berjumlah Rp1,045 miliar.
 
Budi turut memperkaya orang lain yakni Pejabat Pembuat Komitmen Pusat Administrasi Keuangan dan Pengelolaan Aset Sekjen Kemendagri tahun 2011, Dudy Jocom sebanyak Rp5,325 miliar dan Senior Manager Pemasaran PT Hutama Karya, Bambang Mustaqim sebesar Rp500 juta.
 
Kemudian, Sekretaris Panitia Pengadaan Barang atau Jasa Sri Kandiyati Rp300 juta, Hendra sebesar Rp4 miliar, Mohamad Rizal Rp510 juta, Chaerul Rp30 juta dan Sutidjan Rp500 juta.
 
Budi juga turut memperkaya korporasi yaitu PT Hutama Karya sejumlah Rp40,856 miliar, CV Prima Karya Rp3,343 miliar, CV Restu Kreasi Mandiri sebesar Rp265,711 juta dan PT Yulian Berkah Abadi sebesar Rp79,403 juta.
 
"Seluruhnya berasal dari anggaran proyek Gedung Kampus IPDN Kabupaten Rokan Hilir, Riau pada Kemendagri dan Gedung Kampus IPDN di Kabupaten Agam atau Bukittinggi, Sumatera Barat pada Kemendagri," jelas Jaksa Wawan.
 
Atas perbuatannya, Budi dinilai melanggar Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 65 ayat 1 KUHP.
 
Menanggapi dakwaan jaksa, Budi mengaku tidak mengajukan eksepsi atau nota keberatan. Dengan demikian, persidangan akan dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi.
 
"Persidangan dilanjutkan Rabu, 27 Maret 2019, dengan meminta pada JPU untuk memanggil saksi-saksi," ucap Ketua Majelis Hakim Sunarso.
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif