Sidang Emirsyah Satar. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Sidang Emirsyah Satar. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Silang Pendapat Emirsyah Berujung Pencopotan Direktur Garuda

Nasional emirsyah satar tersangka
Fachri Audhia Hafiez • 16 Januari 2020 16:20
Jakarta: Petinggi perusahaan PT Garuda Indonesia sempat silang pendapat soal proposal paket perawatan mesin. Perbedaan pendapat antara eks Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, dengan mantan Direktur Teknik dan IT PT Garuda Indonesia, Soenarko Kuncoro.
 
"Pemberhentian Pak Soenarko Kuncoro dan digantikan Pak Hadinoto Soedigno tahun 2007 itu melalui satu rapat umum pemegang saham (RUPS) di kantor Kementerian BUMN," kata
Mantan Direktur Operasional Garuda Indonesia Ari Sapari di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Januari 2020.
 
Saat diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa Emirsyah Satar dan eks Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo, Ari mulanya mengaku tidak tahu alasan pencopotan itu. Namun, jaksa penuntut umum pada KPK langsung membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Ari saat di penyidikan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Soenarko disebut mengupayakan perawatan mesin pesawat menggunakan mekanisme perawatan time and material based (TMB). PT Garuda Indonesia memiliki enam pesawat Airbus A330 yang menggunakan mesin produksi Rolls-Royce.
 
TMB menjadi pilihan Soenarko karena biaya perawatan lebih terjangkau. Mengingat, PT Garuda Indonesia tengah menghemat keuangan.
 
Sementara Emirsyah kukuh mengupayakan mekanisme total care program (TCP), yakni program perawatan mesin yang seluruhnya dilaksanakan Rolls-Royce tanpa melibatkan pihak ketiga.
 
Jaksa kembali menegaskan kepada Ari, apakah pemberhentian Soenarko buntut dari perbedaan antara mekanisme TMB dan TCP. "Ya saat itu memang ada kesan perbedaan pendapat," ujar Ari.
 
Emirsyah didakwa menerima suap Rp46,3 miliar. Suap berasal dari pihak Roll-Royce Plc, Airbus, Avions de Transport Regional (ATR) melalui PT Ardyaparamita Ayuprakarsa milik Soetikno Soedarjo, dan Bombardier Kanada. Suap diberikan karena Emirsyah selaku Dirut Garuda memilih pesawat dari tiga pabrikan dan mesin pesawat dari Rolls Royce.
 
Emirsyah didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau 11 Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.
 
Sementara Soetikno didakwa memberikan uang kepada Emirsyah Rp5,859 miliar, USD884.200 (Rp12,35 miliar), 1.020.975 euro (Rp15,8 miliar), dan 1.189.208 dolar Singapura (Rp12,2 miliar). Fulus diberikan agar Emirsyah membantu kegiatan dan pengadaan sejumlah barang oleh Garuda Indonesia.
 
Soetikno didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif