Mantan Direktur Utama PLN Sofyan Basir. Foto: MI/Rommy Pujianto
Mantan Direktur Utama PLN Sofyan Basir. Foto: MI/Rommy Pujianto

Sofyan Basir Bakal Diperiksa Terkait Kasus Bowo Sidik

Nasional OTT KPK
Candra Yuri Nuralam • 27 Juni 2019 00:43
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memeriksa mantan Direktur Utama PLN Sofyan Basir. Ia direncanakan diperiksa terkait kasus yang menjerat politikus Partai Golkar Bowo Sidik Pangarso.
 
"Besok (hari ini), rencananya akan dilakukan pemeriksaan terhadap Sofyan Basir, mantan direktur utama PLN dalam perkara ini lengkapnya apakah untuk tersangka Indung atau juga untuk tersangka Bowo Sidik Pangarso," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 26 Juni 2019.
 
Sofyan bakal ditanya terkait dugaan sumber aliran dana gratifikasi dalam kasus Bowo Sidik. KPK akan mencocokkan dengan hasil pemeriksaan dari Christiany.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penyidik KPK juga membutuhkan keterangan Sofyan terkait dengan dugaan penyalahgunaan jabatan yang dilakukan oleh Bowo Sidik dan Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Paruntu. Christiany juga sudah diperiksa KPK pada Rabu, 26 Juni 2019.
 
"Kami dalami segera ya hubungan jabatannya persisnya misalnya terkait dengan peraturan gula rafinasi misalnya yang pertama yang kedua posisi atau kegiatan-kegiatan di salah satu BUMN," ujar Febri.
 
KPK sendiri mengendus adanya proses pengalokasian dan beberapa kegiatan yang membawa nama Christiany. Sofyan disebut mengetahui hubungan antara Christiany dan Bowo sidik. Untuk itu, keterangannya diperlukan.
 
Bowo bersama Asty Winasti dan Indung ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait kerjasama pengangkutan pupuk milik PT Pupuk Indonesia Logistik dengan PT HTK. Bowo dan Idung penerima sedangkan Asty pemberi suap.
 
Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas biaya angkut. Total fee yang diterima Bowo USD2 permetric ton. Diduga telah enam kali menerima fee di sejumlah tempat seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT HTK sejumlah Rp221 juta dan USD85.130.
 
Uang sekitar Rp8 miliar dalam pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu itu telah dimasukkan dalam amplop-amplop. Uang tersebut diduga bakal digunakan Bowo untuk 'serangan fajar' pada Pemilu 2019. Politikus Golkar itu kembali mencalonkan diri pada Pemilu 2019 di daerah pemilihan Jawa Tengah II.
 
Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif