BPPN Dibentuk untuk Menyelamatkan Negara
Bambang Subianto Foto: MI/Agus Mulyawan.
Jakarta: Mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Bambang Subianto menyebut lembaganya pertama kali dibentuk untuk menyelamatkan perekonomian negara. BPPN memang dibentuk di tengah krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1998. 
 
Hal tersebut diungkap Bambang saat bersaksi dalam sidang lanjutan perkara korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dengan terdakwa Syafruddin Arsyad Temenggung. Menurutnya, BPPN dibentuk untuk mencegah agar kerugian negara tidak berkelanjutan.
 
"Fokus utama adalah menyelamatkan perekonomian. Karena, kalau itu tidak berhasil, kerugian yang ditanggung akan jauh lebih besar," kata Bambang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 6 Juni 2018.
 
Bambang mengatakan, pada prinsipnya BPPN memang dibentuk untuk membenahi perbankan saat itu. Selain itu, menurut dia, BPPN bertugas mengumpulkan aset perbankan, kemudian dirawat dan dijual kembali untuk menutup kerugian, karena ada kerugian yang ditanggung pemerintah.
 
BPPN awalnya mengumpulkan para pemegang saham pengendali dan meminta mereka mengembalikan pinjaman negara. Karena, jika bank ditutup hitungannya, jumlah kekayaan dikurangi nilai kewajiban membayar utang. Selisihnya itu lah yang harus ditomboki pemerintah.

Baca: Jaksa Tegaskan Kasus BLBI Masuk Ranah Pidana

Menteri Keuangan era Presiden BJ Habibie itu juga menjelaskan, saat itu pemerintah tidak menyatakan adanya bank yang tidak sehat. Namun, pada kenyataannya kondisi perbankankan sedang tidak sehat.
 
"Kenyataannya kepercayaan masyarakat sudah hilang. Bagaimana kita melihat masyarakat berbondong-bondong, antre mengambil duit di bank. Kedua, modalnya negatif. Hampir semua bank termasuk bank pemerintah modalnya negatif. Mau dibilang sehat ya enggak mungkin," tuturnya.
 
Kendati demikian, ia mengklaim BPPN saat itu mampu memperbaiki kondisi ekonomi. "Pada 1998 kondisi ekonomi itu -13,5 persen. Sementara pada tahun 1999 naik jadi 2 persen," ungkapnya.






(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id