Konferensi pers di SMA SPI, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis 10 Juni 2021. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq
Konferensi pers di SMA SPI, Kota Batu, Jawa Timur, Kamis 10 Juni 2021. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq

Bantah Eksploitasi Siswa, SPI Batu: Itu Program Unit Praktik Lapangan

Nasional Kekerasan di Sekolah
Daviq Umar Al Faruq • 11 Juni 2021 19:30
Malang: Pihak SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Kota Batu, Jawa Timur (Jatim), membantah kasus dugaan eksploitasi siswa yang dituduhkan kepada sekolahnya. Sebab, pihak sekolah mengaku telah menjalankan proses belajar mengajar sesui aturan yang berlaku.
 
Kuasa Hukum SMA SPI, Ade Dharma Maryanto, mengatakan SMA SPI memiliki dua program pembelajaran. Yakni pendidikan reguler dan program unggulan yakni Unit Praktik Lapangan (UPL). 
 
Pada program UPL ini, para siswa diberikan pelatihan dan pengetahuan maupun keterampilan taktis. Mereka yang mengikuti program tersebut bisa memperoleh sertifikasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sertifikasi itu akan berguna bagi para siswa untuk memperoleh pekerjaan di kemudian hari, atau mengembangkan potensi diri," kata Ade, Jumat, 11 Juni 2021.
 
Program pendidikan UPL tersebut merupakan bagian kurikulum pendidikan yang diawasi Dinas Pendidikan Kota Batu dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. 
 
Ade menjelaskan bahwa pengupahan dan jam kerja pada program UPL ini diisukan tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku terhadap para siswa. Padahal. menurutnya, seluruh kegiatan program UPL ini dilaksanakan pada jam pelajaran dan dalam pengawasan guru pendamping.
 
"Jadi tidak ada kegiatan yang berada di luar jam belajar mengajar. Selesai kegiatan belajar mengajar, para siswa kembali ke asrama," tegas dia. 
 
Ia menambahkan, di asrama juga dalam pengawasan Ibu Asrama. Demikian juga untuk aktivitas di luar sekolah dimana ada guru yang mendampingi.
 
Baca: Pelapor Dugaan Kekerasan Seksual di Sekolah SPI Batu Tembus 29 Orang
 
Selain itu, pihak SMA SPI juga mengklaim tidak pernah sekalipun memaksa para siswanya untuk mengikuti program UPL tersebut. SMA SPI juga tak pernah memaksa kepada alumni dan siswa untuk tetap tinggal dan mengelola program UPL tersebut. 
 
"Jadi ketika para siswa ini lulus, mereka sendiri yang mengajukan kepada pihak SPI untuk turut berkontribusi mengembangkan program UPL, sehingga sekolah bisa berkembang sampai seperti saat ini," tutur Ade. 
 
Sebelumnya, jumlah pelapor dugaan kekerasan seksual di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu, Jawa Timur, telah menembus 29 orang. Jumlah tersebut berdasarkan data dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Batu.
 
Puluhan pelapor tersebut merupakan para korban dugaan kekerasan seksual, fisik, verbal, serta eksploitasi ekonomi. Mereka saat ini berdomisili di berbagai daerah yang ada di Indonesia.
 
(SYN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif