Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, saat ditemui di Makassar, Sulawesi Selatan. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin.
Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, saat ditemui di Makassar, Sulawesi Selatan. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin.

Polisi Tetapkan Lima Tersangka Kasus Penggelembungan Suara Pemilu

Nasional kampanye pileg pilpres 2019 pemilu serentak 2019
Muhammad Syawaluddin • 03 Juli 2019 10:37
Makassar: Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan menetapkan lima orang tersangka dalam kasus dugaan pegelembungan suara salah satu calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Selatan, Rahman Pina saat Pemilihan Umum (Pemilu) serentak April 2019 lalu.
 
"Dalam kasus ini (pegelembungan) suara kita telah menetapkan lima tersangka dari beberapa kelurahan dan kecamatan di Makassar," kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 3 Juli 2019.
 
Kelima orang tersebut yakni Ketua PPK Kecamatan Panakukkang, Umar dan Ketua PPK Kecamatan Biringkanaya, Adi. Keduanya berperan lalai dalam pelaksanaan perhitungan perolehan pemilu sehingga penetapan suara tidak sesuai antara C1 dan DAA1 yang dikeluarkan PPK.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian anggota PPS Panaikang, Fitri, yang berperan meminta kepada pengimput untuk mengubah suara dengan iming-iming memberikan imbalan, Rahmat yang merupakan Operator KPU di Kecamatan Biringkanaya, dan Ismail, yang merupakan PPS Kecamatan Panakkukang.
 
"Rahmat dan Ismail, keduanya berperan mengubah suara yang ada dalam inputan dan mendapatkan sejumlah uang," jelasnya.
 
Setelah penentuan lima tersangka tersebut, Calon anggota legislatif Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Sulawesi Selatan dari Partai Golkar, Rahman Pina kemudian diperiksa terkait dugaan tindak pidana Pemilihan Umum (Pemilu) itu.
 
"Kita melakukan pemeriksaan terhadap Rahman Pina sebagai saksi dalam kasus dugaan tindak pidana pemilu," jelasnya.
 
Dicky menjelaskan bahwa Rahma Pina yang masih berstatus sebagai anggota DPRD Kota Makassar tersebut diperiksa lantaran dalam Pemilu serentak 2019 lalu suara caleg dari Partai Golkar itu bertambah (DAA1) atau tidak sesuai dengan C1 yang dikeluarkan oleh PPK.
 
"Ada yang mengubah atau menambah hasil suara milik Rahman Pina," jelasnya.
 
Hingga saat ini pihaknya masih terus mendalami kasus yang menyeret anggota DPRD Kota Makassar tersebut. Polisi mencari apakah Ketua Komisi C DPRD Kota Makassar itu juga terlibat dalam penggelembungan suara miliknya saat Pemilu serentak 17 April 2019 lalu.
 
"Nanti kita lihat perkembangannya. Karena tidak menutup kemungkinan dalam proses pengembangan kasus ini akan ada tersangka baru," katanya.

 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif