Diskusi yang digelar PWI Kabupaten Jepara mendiskusikan krisis air.
Diskusi yang digelar PWI Kabupaten Jepara mendiskusikan krisis air.

Kekeringan di Jepara Meluas Tiap Tahun

Nasional kekeringan
Rhobi Shani • 31 Oktober 2019 11:52
Jepara: Desa yang mengalami krisis air bersih sejak tiga tahun terakhir di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, terus bertambah. Saat ini sebanyak 32 desa di Jepara kekeringan.
 
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Arwin Nor Isdiyanto, merinci pada 2017 hanya enam desa yang mengalami krisis air bersih. Tahun berikutnya, meningkat menjadi 15 desa. Tahun ini, sejak Juli hingga 30 Oktober 2019, tercatat sudah 32 desa yang mengalami krisis air bersih.
 
Menurut Arwin ada dua kategori warga yang mengalami krisis air bersih. Yaitu, warga yang sumurnya mengering dan warga konsumen perusahaan daerah air minum (PDAM).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Dari 32 desa yang saat ini mengalami krisis, 11 desa di antaranya adalah desa yang warganya menggantungkan air PDAM setiap harinya. Sisanya, warga yang sumurnya mengering,” ujar Arwin dalam diskusi yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jepara, Rabu malam, 30 Oktober 2019.
 
Agar kondisi krisis air bersih tidak terus berulang tiap tahun, Arwin melanjutkan, beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah dengan mendalamkan sumur. Serta membuat sumur dalam.
 
“Itu solusi jangka pendek. Tapi apakah warga mampu melakukan itu. Kalau untuk solusi jangka panjangnya penghijauan dan pembuatan embung,” kata Arwin.
 
Direktur PDAM, Prabowo, mengungkapkan pihaknya kehabisan air baku. Sebanyak 90 sumur air baku milik PDAM mengalami penyusutan debit air. Sehingga, pasokan air kepada konsumen terganggu.
 
“Kami sudah berupaya penambahan sumur baku, tapi setiap kali ada sosialisasi selalu ada penolakan dari warga. Selain itu, harga tanah langsung dinaikan,” ungkap Prabowo.
 
Dikatakan Prabowo, embung Kali Mati yang jadi andalan air baku permukaan debitnya tidak mampu memenuhi kebutuhan pelangan. Selain sumur dalam, juga masih dibutuhkan banyak embung untuk memenuhi air ke konsumen.
 
“Kondisi saat ini kami memang kesulitan sumber air baku,” tandas Prabowo.
 
Prabowo mengungkapkan, penolakan warga terhadap rencana pembuatan sumur dalam lantaran, warga khawatir sumber air sumur permukaan milik warga akan mengering.
 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif