SMAN 12 Tangsel. (Medcom.id/Farhan D)
SMAN 12 Tangsel. (Medcom.id/Farhan D)

Siswa SMAN 12 Tangsel Dibebankan Banyak Biaya

Farhan Dwitama • 27 Agustus 2019 16:44
Tangerang: Siswi kelas X SMA Negeri 12 Tangerang Selatan, N, harus bersusah payah melanjutkan sekolah. N Hanya bisa menggantungkan nasib ke kakaknya.
 
Pendidikan tingkat SMA negeri di Banten dinyatakan gratis. Namun hal itu tidak dirasa sepenuhnya gratis oleh N. Pengakuan N kepada Medcom.id, aktivitas belajarnya terganggu karena belum mampu membeli buku penunjang yang diwajibkan pihak sekolah.
 
"Dari awal masuk sampai hari ini saya belum punya buku pelajaran. Sekarang pinjam teman, merepotkan, tapi saya enggak punya pilihan," ujar N, Selasa, 27 Agustus 2019. 

N hanya tinggal bersama kakaknya, dan hanya bisa bersabar untuk bisa membeli paket buku yang diwajibkan pihak sekolah. Dia mengaku paket buku harus ditebus penuh.
 
"Kemarin kakak baru ada duit Rp1 juta, tapi pas mau beli, enggak dikasih. Katanya harus semua seharga Rp 1.867.500 untuk 14 paket buku penunjang dan LKS," bebernya. 
 
Beban biaya sekolah N tak hanya soal paket buku. N harus dibebani duit seragam Rp863 ribu, infak kebersihan Rp200 ribu, dan infak sarana prasarana sekolah Rp1.000.000.
 
Tak hanya N, seorang pelajar yang enggak disebut nama juga mengeluhkan hal senada. Dia mengaku dalam satu kelas hanya 10 anak yang telah membeli paket buku.
 
"Lainnya pinjam teman atau buku dari perpustakaan," ungkap pelajar IPA SMAN 12 Tangsel kepada Medcom.id.
 
Kewajiban Membeli Paket Buku Dibantah
 
Kepala SMA Negeri 12 Tangsel, Syamsudin, mengaku tidak meminta dan tidak melarang wali murid dan guru membeli buku penunjang. Dia mengaku tak bekerja sama dengan distributor buku. 
 
"Saya tidak melarang, tidak menyuruh, atau menginstruksikan ke guru, orang tua, dan anak untuk membeli buku," tegasnya. 
 
Syamsudin mengaku pembelian buku yang dianggarkan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (Bos) tidak cukup untuk semua siswa. Dia mengungkap dana Bos baru mencukupi kebutuhan buku untuk kelas XII IPA 1-4 dan IPS 4. 
 
"Pinjaman diberikan secara bergilir," ucapnya. 
 
Terkait pihak distributor, kata Syamsudin, mengaku kenal dengan Quadra. Namun pihaknya tidak lagi bekerja sama pascakebijakan sekolah gratis.
 
"Tapi saya demi Allah tidak ada kerjasama dengan Quadra, tidak terikat apa pun. Sebenarnya, semua sekolah di Tangsel bekerja sama dengan Quadra waktu itu (sekolah non-gratis)," bebernya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LDS)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>