medcom.id, Pangkal Pinang: Ribuan umat Konghucu di Kota Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, merayakan Hari Raya Cheng Beng, Minggu (5/4/2015) pagi. Orang Tionghoa itu berziarah ke makam orang tua dan leluhur mereka.
Sambil membawa dupa, lilin, kertas sembahyang, dan sesajian, mereka mendoakan dan membersihkan makam leluhur di Pemakaman Sentosa, Kota Pangkal Pinang. Sesajian berupa daging ayam dan buah-buahan mereka letakkan di dekat makam tersebut.
Cheng Beng berasal dari bahasa Mandarin artinya bersih terang. Menurut sejarah, Cheng Beng dilakukan sejak 2.500 tahun lalu saat Dinasti Zhou berkuasa. Awalnya, ritual ini merupakan suatu upacara yang berhubungan dengan berakhirnya musim dingin dan pertanian di Tiongkok. Seiring waktu, umat Konghucu meyakini bahwa saat Cheng Beng, pintu neraka dan surga dibuka lebar untuk memberi kesempatan para penghuni mengunjungi keturunan mereka di bumi.
Kepada Dinas Pariwisata Kota Pangkal Pinang, Ahmad Elpian mengatakan Cheng Beng meruapakan ritual tahunan umat Konghucu di Kota Pangkal Pinang. Perayaan ini merupakan wujud kepatuhan umat Konghucu terhadap orang tua dan leluhur mereka.
Sejak 1 April lalu, ramai warga mulai mendatangi makan para leluhur. Hari ini 5 April 2015 merupakan puncak Hari Raya Cheng Beng. Banyak orang Tionghoa yang berada di luar negeri sengaja pulang ke Bangka Belitung untuk berziarah ke makan leluhur mereka.
medcom.id, Pangkal Pinang: Ribuan umat Konghucu di Kota Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, merayakan Hari Raya Cheng Beng, Minggu (5/4/2015) pagi. Orang Tionghoa itu berziarah ke makam orang tua dan leluhur mereka.
Sambil membawa dupa, lilin, kertas sembahyang, dan sesajian, mereka mendoakan dan membersihkan makam leluhur di Pemakaman Sentosa, Kota Pangkal Pinang. Sesajian berupa daging ayam dan buah-buahan mereka letakkan di dekat makam tersebut.
Cheng Beng berasal dari bahasa Mandarin artinya bersih terang. Menurut sejarah, Cheng Beng dilakukan sejak 2.500 tahun lalu saat Dinasti Zhou berkuasa. Awalnya, ritual ini merupakan suatu upacara yang berhubungan dengan berakhirnya musim dingin dan pertanian di Tiongkok. Seiring waktu, umat Konghucu meyakini bahwa saat Cheng Beng, pintu neraka dan surga dibuka lebar untuk memberi kesempatan para penghuni mengunjungi keturunan mereka di bumi.
Kepada Dinas Pariwisata Kota Pangkal Pinang, Ahmad Elpian mengatakan Cheng Beng meruapakan ritual tahunan umat Konghucu di Kota Pangkal Pinang. Perayaan ini merupakan wujud kepatuhan umat Konghucu terhadap orang tua dan leluhur mereka.
Sejak 1 April lalu, ramai warga mulai mendatangi makan para leluhur. Hari ini 5 April 2015 merupakan puncak Hari Raya Cheng Beng. Banyak orang Tionghoa yang berada di luar negeri sengaja pulang ke Bangka Belitung untuk berziarah ke makan leluhur mereka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TTD)