medcom.id, Jayapura: Pencarian Helikopter Super Puma H-3215 TNI-AU yang mendarat darurat di pedalaman Papua, hingga kini (12/1/2014), belum menuai hasil positif. Tim penyelamat gabungan Basarnas dan TNI masih mengalami kesulitan menemukan posisi pesawat yang mendarat Jumat lalu itu.
Komandan Lanud Jayapura, Kol (Pnb) I Made Susila, mengatakan, pencarian lewat darat dari Kiwirok tidak dapat dilakukan. Pasalnya, setelah berjalan sekitar dua kilometer, tim penyelamat menemukan hambatan alam. Mereka malah berakhir di tebing curam sehingga terpaksa kembali.
Helikopter Bell, yang juga dikerahkan membantu pencarian, hingga kini belum berhasil menemui titik pendaratan Super Puma lantaran cuaca kerap berubah. Kendati demikian, tim penyelamat terus berupaya mencapai titik pendaratan di tengah cuaca tak bersahabat.
"Faktor cuaca sangat menghalangi upaya pencarian," ujar Made Susila, di Jayapura, hari ini.
Danlanud berharap penumpang yang merupakan anggota Yon 133 tetap dalam keadaan stabil. Seluruh penumpang berjumlah 10 orang. Sang pilot Mayor Pnb Apu Tarigan dan Copilot Lettu Pnb Surya Mega.
Mereka dalam kondisi selamat dan aman. Namun helikopter mengalami kerusakan termasuk GPS dan seluruh alat komunikasi tak berfungsi.
Super Puma H-3215 milik TNI Angkatan Udara (AU) itu hilang kontak saat terbang dari Sentani menuju Kiwirok, Papua, Jumat. TNI AU menyebutkan kontak terakhir pesawat yaitu pada 14.33 WIT. Setelah itu pesawat tak ada hubungan kontak dengan hanggar di Bandara Sentani.
Sekira pukul 16.15 WIT, petugas di hanggar mendapat informasi dari H-3215 dengan menggunakan telepon satelit. Petugas di hanggar mendapat informasi Helikopter mengalami cress di ketinggian 4.500 kaki atau berjarak kurang lebih 18 mil sebelum Kiwirok.
medcom.id, Jayapura: Pencarian Helikopter Super Puma H-3215 TNI-AU yang mendarat darurat di pedalaman Papua, hingga kini (12/1/2014), belum menuai hasil positif. Tim penyelamat gabungan Basarnas dan TNI masih mengalami kesulitan menemukan posisi pesawat yang mendarat Jumat lalu itu.
Komandan Lanud Jayapura, Kol (Pnb) I Made Susila, mengatakan, pencarian lewat darat dari Kiwirok tidak dapat dilakukan. Pasalnya, setelah berjalan sekitar dua kilometer, tim penyelamat menemukan hambatan alam. Mereka malah berakhir di tebing curam sehingga terpaksa kembali.
Helikopter Bell, yang juga dikerahkan membantu pencarian, hingga kini belum berhasil menemui titik pendaratan Super Puma lantaran cuaca kerap berubah. Kendati demikian, tim penyelamat terus berupaya mencapai titik pendaratan di tengah cuaca tak bersahabat.
"Faktor cuaca sangat menghalangi upaya pencarian," ujar Made Susila, di Jayapura, hari ini.
Danlanud berharap penumpang yang merupakan anggota Yon 133 tetap dalam keadaan stabil. Seluruh penumpang berjumlah 10 orang. Sang pilot Mayor Pnb Apu Tarigan dan Copilot Lettu Pnb Surya Mega.
Mereka dalam kondisi selamat dan aman. Namun helikopter mengalami kerusakan termasuk GPS dan seluruh alat komunikasi tak berfungsi.
Super Puma H-3215 milik TNI Angkatan Udara (AU) itu hilang kontak saat terbang dari Sentani menuju Kiwirok, Papua, Jumat. TNI AU menyebutkan kontak terakhir pesawat yaitu pada 14.33 WIT. Setelah itu pesawat tak ada hubungan kontak dengan hanggar di Bandara Sentani.
Sekira pukul 16.15 WIT, petugas di hanggar mendapat informasi dari H-3215 dengan menggunakan telepon satelit. Petugas di hanggar mendapat informasi Helikopter mengalami cress di ketinggian 4.500 kaki atau berjarak kurang lebih 18 mil sebelum Kiwirok.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(JCO)