Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Koentjoro. Medcom.id/ Patricia Vicka
Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Koentjoro. Medcom.id/ Patricia Vicka

Korban Keraton Palsu Dinilai Kurang Perhatian Keluarga

Nasional kepercayaan
Patricia Vicka • 21 Januari 2020 19:15
Yogyakarta: Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Koentjoro, menyoroti munculnya keraton palsu. Menurutnya banyak korban disebabkan kurangnya perhatian dalam lingkungan keluarga.
 
Koentjoro menjelaskan para korban yang sebagian besar adalah pria lansia kurang mendapatkan kasih sayang.
 
"Bapak-bapak ini anak-anaknya sudah besar. Kurang kasih sayang dan perhatian. Maka mencari perhatian dan kerjaan di luar rumah. Salah satunya ikut organisasi ini," kata Koentjoro di UGM Yogyakarta, Selasa, 21 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Para korban yang sebagian besar merupakan pensiunan terkena Post Power Sindrome (PPS). Para lansia ini butuh pengakuan dan aktualisasi diri. Sindrome ini biasa terjadi pada para pensiunan yang pernah memiliki jabatan dan anak buah saat bekerja.
 
"Orang tua yang dulunya punya jabatan dan anak buah, saat pensiun tidak ada yang bisa diperintah. Dia jadi mau gabung disitu," kata Guru besar Psikologi UGM ini.
 
Begitu masuk ke dalam kelompok tersebut, para anggota ini di doktrin oleh pemimpin kelompok melalui simbol-simbol kerajaan dan pidato yang meyakinkan. Hal ini membuat korban menjadi percaya dengan semua ucapan sang pemimpin yang tidak masuk akal.
 
"Saat seseorang berkumpul dalam kelompok dengan simbol dan keyakinan tertentu,muncul suatu hipnosis. Yakni kekuatan psikologi masa untuk menghiptonis diri sendiri. Sehingga orang dengan mudah percaya apa yang dikemukakan oleh pemimpin," jelas Koentjoro.
 
Sementara pemimpin kelompok, menurut Koentjoro, terkena gangguan kejiwaan yang biasa disebut Delution of Grandeur atau khayalan keagungan. Seseorang yang terkena delusi ini percaya dirinya memiliki kemampuan yang lebih dan merasa menjadi orang yang populer.
 
"Ini paham orang besar. Orang-orang ini punya kemampuan yang luar biasa untuk membuat orang percaya dengan delusi yang dibuatnya. Ini ada pada pemimpin seperti Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagat," ungkap Koentjoro.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif