Polisi Tangkap Empat Joki CPNS di Makassar
Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.
Makassar: Polisi menangkap empat orang diduga pelaku joki pada tes seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka ketahuan saat mengikuti seleksi CPNS Kementerian Hukum dan HAM di Aula RRI jalan Riburane Makassar, Sabtu dan Minggu, 27-28 Oktober 2018.

Empat orang joki masing-masing bernama Ahmad Lutfi, Hamdi Widi, Martin Tumpak Rumapea, dan Adi Putra Sujana. Dari hasil penyelidikan, polisi menangkap seorang peserta asli seleksi CPNS bernama Musriadi serta makelar atau broker atas nama dr Wahyudi. Aparat masih mengejar pelaku lain yang terlibat jaringan ini.

"Masih ada sembilan orang yang dalam pengejaran, di antaranya empat orang perantara, dua broker, sisanya peserta seleksi CPNS," kata Kepala Polrestabes Makassar Kombes Irwan Anwar di Makassar, Senin, 29 Oktober.


Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani mengungkapkan, jaringan joki terungkap pada proses verifikasi peserta tes CPNS. Panitia awalnya mencurigai wajah peserta yang berbeda dengan foto pada kartu ujian dan KTP. Joki yang lain kedapatan memalsukan KTP dan kartu ujian untuk menyamar, menggantikan peserta asli.

"Polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa empat KTP palsu serta kartu ujian palsu, serta pakaian yang digunakan joki saat mengikuti ujian," jelas Dicky.

Dari hasil penyelidikan sementara, polisi menduga para peserta tes seleksi CPNS sengaja meminta kepada broker agar dicarikan joki. Mereka berharap bisa lulus tes dengan bantuan orang lain sebagai peserta pengganti. Broker kemudian berhubungan dengan beberapa perantara untuk mendatangkan joki dari sejumlah daerah di luar Sulsel.

Menurut kesepakatan dengan para peserta, joki dijanjikan uang jasa jika lulus ujian. Nilainya bervariasi, antara Rp10 juta hingga Rp40 juta.
"Sedangkan broker meminta kepada peserta antara Rp125 juta hingga Rp150 juta," kata Dicky.

Para pelaku joki terancam hukuman maksimal enam tahun penjara. Mereka dijerat dengan Pasal 263 juncto Pasal 55 KUHP, karena memalsukan surat dan menggunakannya untuk kejahatan.

"Polisi masih mengembangkan penyelidikan dan mengejar pelaku lainnya," Dicky melanjutkan.



(DEN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id