Angkot di Surabaya, MTVN - Amaluddin
Angkot di Surabaya, MTVN - Amaluddin

Sopir Tembak di Cirebon dan Larangan Sopir Cilik di Surabaya

Amaluddin, Ahmad Rofahan • 27 April 2017 20:17
medcom.id, Cirebon: Sopir tembak menjadi masalah dalam pelayanan transportasi dalam kota alias angkot. Sebab sopir tembak tak memiliki izin untuk mengendarai angkot. Namun keberadaan sopir tembak justru memberikan kesempatan pada sopir asli untuk beristirahat.
 
Kadmani, 50, sopir angkot di Cirebon, Jawa Barat, mengaku tak mudah meraup rupiah di jalan raya. Setiap hari, ia harus memberikan setoran pada pemilik angkot sebesar Rp140 ribu. Ia juga harus memberikan sejumlah uang untuk kebutuhan anak-anak dan istrinya. 
 
Belakangan, ia mengalami kesulitan. Banyak warga yang sudah memiliki sepeda motor sehingga tak lagi menumpang angkot. Keberadaan transportasi berbasis online juga semakin mempersulit dirinya mencari uang.

"Untuk mengejar setoran saja sudah sulit," ujar Kadmani di Cirebon, Kamis 27 April 2017.
 
Tak jarang Kadmani menggunakan banyak waktu untuk narik. Suatu waktu, ia merasa capai. Kemunculan sopir tembak seolah menjadi 'oase'.
 
"Daripada istirahat tapi tidak dapat uang, jadi lebih baik diberikan ke sopir tembak," kata Kadmani.
 
Sopir tembak, biasanya hanya meminjam kendaraan tersebut untuk perjalanan satu kali rute. Dalam setiap kali meminjam, sopir tembak dikenai biaya sebesar Rp30ribu hingga Rp40 ribu.
 
"Tergantung kendaraannya. Lebih bagus, biayanya lebih mahal," kata Kadmani.
 
Walaupun demi mengejar setoran, namun sopir angkot tidak menyerahkannya kepada sembarang orang. Apalagi, jika belum cukup umur dan terlihat masih belum menguasai kendaraan.
 
Andri, salah satu sopir lainnya menyebutkan, tanggung jawab kendaraan masih berada pada sopir batangan. Sehingga, sopir juga harus selektif dalam menyewakan mobil kepada sopir tembak.
 
"Tanggung jawab mobil, masih ada di sopir asli. Jadi, kita harus hati-hati dalam menyewakan mobil kepada sopir tembak," kata Andri.
 
Kehati-hatian itu juga dilakukan sopir angkot di Surabaya, Jawa Timur. Sutikno, sopir yang ngetem di Terminal Joyoboyo, mengatakan pemilik angkot tak sembarangan menyerahkan kendaraannya.
 
Biasanya, ujar Sutikno, angkot di Surabaya merupakan milik perorangan. Pemilik mempekerjakan sopir dengan menerapkan sistem setoran.
 
"Anak di bawah umur tentunya tak bisa jadi angkot. Kan mereka tidak punya SIM," ujar Sutikno.
 
Sutikno mengaku sudah 15 tahun menjadi sopir angkot. Selama itu pula ia tak pernah melihat bocah-bocah menyetir angkot. 
 
Justru, lanjutnya, sopir didominasi orang-orang berumur. Paling muda, ungkapnya, sopir berusia 17 tahun.
 
Pernyataan Sutikno itu berkaitan dengan kemunculan foto yang menunjukkan seorang bocah menjadi sopir angkot di Bandung, Jawa Barat. Terang, kemunculan foto menjadi viral di netizen.
 
Baca: Ada Bocah Jadi Sopir Angkot di Bandung
 
Tak mau diam, Polrestabes Bandung lantas memanggil bocah, orang tua, dan pemilik angkot. Bocah berinisial GMA itu masih duduk di bangku SD. Ia juga baru dua pekan belajar menyetir.
 
 "Dari pengakuannya, belajar sudah dua minggu. Bawa angkotnya hanya beberapa kali tapi dalam jarak dekat saja. Tapi tetap ini, tidak boleh karena dia (GMA) masih di bawah umur," kata Kasatlantas Polrestabes Bandung AKBP Asep Pujiono.
 
Namun GMA membantah menyetir angkot. Pada Selasa malam 25 April 2017, GMA kebetulan menumpang angkot di Bandung. Tiba-tiba, lanjut GMA, sopir angkot sakit perut.
 
"Saya sedang di Tugu Pasar Kordon. Saya kemudikan angkotnya, dekat. Hanya selurusan saja dari Tugu Pasar Kordon sampai perempatan Samsat," ujar GMA.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RRN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>