Letusan Gn Slamet (3/5/2014) -- Foto: Antara/Oky Lukmansyah
Letusan Gn Slamet (3/5/2014) -- Foto: Antara/Oky Lukmansyah

Gunung Slamet Kembali Meletus

Akhmad Safuan • 07 Agustus 2014 14:31
medcom.id, Pemalang: Gunung Slamet kembali mengeluarkan 16 kali letusan abu kecoklatan setinggi 400-600 meter yang condong ke arah barat. Warga diminta tidak berada di radius dua kilometer dari puncak gunung yang berada di wilayah Tegal, Brebes, Pemalang, Purbalingga dan Banyumas tersebut.
 
Berdasarkan pantauan Media Indonesia dari Pos Pemantauan Gunung Api Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Kamis (7/8/2014), hingga siang ini aktivitas vulkanis Gunung Slamet kembali terjadi seperti suara gemuruh letusan, lontaran api dan kepulan asap tebal disertai hembusan abu berwarna kecoklatan.
 
Meskipun belum terlihat adanya arus pengungsian warga yang ada di lereng pegunungan, baik itu di Tegal, Brebes, Pemalang, Purbalingga dan Banyumas, namun warga diperingatkan agar tidak berada di radius 2 kilometer dari puncak gunung. Jalur pendakian ke Gunung Slamet juga kembali ditutup.

Aktivitas warga terutama petani di lereng Gunung Slamet juga masih tetap berjalan normal. Para petani masih tetap menjalankan kegiatan bercocok tanam yang berjarak di bawah 8 kilometer dari puncak gunung.
 
"Meski suara dentuman dan lontaran api terus terjadi, namun tidak sampai mengganggu hasil pertanian disini dan kami masih bisa memanen kol dan tomat," kata Sunaryo, petani di Pulosari, Pemalang.
 
Kepala Pos Pemantauan Gunung Api Slamet Sudrajat mengatakan, gunung api dengan ketinggian 3.432 meter dari permukaan air laut ini masih dalam status waspada karena terus bergemuruh dan menimbulkan getaran sejak Selasa (4/8/2014) hingga Kamis (7/8/2014).
 
Dalam sepekan terakhir, aktivitas Gunung Slamet terus meningkat dan berdasarkan data telah terjadi 16 kali letusan abu kecoklatan setinggi 400-600 meter dengan tujuh kali suara dentuman, 21 kali gempa letusan dan 419 kali gempa embusan.
 
"Kita melarang warga berada di radius 2 kilometer dari puncak Gunung Slamet, karena bisa terkena material gunung dan abu dari letusan gunung," kata Sudrajat.
 
Selain larangan berada dekat dengan kawah, warga juga dilarang melakukan pendakian. Seluruh jalur pendakian ditutup karena aktivitas vulkanik Gunung Slamet meningkat.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LOV)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>