medcom.id, Madiun: Pemandangan berbeda terlihat di Lokalisasi Gude, Desa Teguhan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Senin (10/11/2014) malam. Pekerja seks komersial (PSK) yang biasa mengundang birahi para tamu dan mucikari yang kerap menawarkan jasa anak-anaknya, mengenakan kerudung dan membawa buku bacaan doa.
Malam itu mereka tak membuka 'praktik'. Pukul 19.30 WIB itu, mereka meninggalkan petak-petak kamar mesum. Puluhan PSK dan mucikari berbondong-bondong menuju Balai Pertemuan Lokalisasi Gude untuk menggelar istigasah, berdoa bersama memohon sesuatu kepada Allah SWT.
Bukan cuma PSK dan mucikari, semua warga yang mencari hidup di Lokalisai Gude, duduk takzim dan khusyuk memanjatkan doa. Istigasah dipimpin Ustaz Maryono. Doa pertama yang dilakukan adalah beristhigfar, doa meminta ampunan kepada Allah SWT.
"Kami menggelar istigasah untuk memperingati Hari Pahlawan, sekaligus berdoa bersama-sama karena malam ini nasib kami terancam. Pemkab Madiun menutup Lokalisasi Gude, tempat kami menggantungkan hidup selama ini," kata Susie, 27, salah satu PSK. Dia berkerudung kuning.
Istigasah digelar untuk mendobrak kebuntuan perjuangan mempertahankan Gude. Mereka sudah beberapa kali mendatangi Kantor DPRD dan Pemkab Madiun untuk menolak penutupan Gude. Tapi, nihil hasil.
Pemkab Madiun resmi menutup lokalisasi legendaris itu di waktu yang sama, di tempat lain. Acara penutupan dihadiri jajaran Pemkab Madiun dan segelintir warga Desa Tambuhan.
Alasan penutupan, menindaklanjuti Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Politisi Partai Demokrat itu punya asa membersihkan Jatim dari tempat penjaja birahi.
"Karena pejabat kita dan ulama kita sekarang sudah tidak mendengar lagi aspirasi kami, malam ini kami bersama-sama berdoa kepada Allah SWT. Semoga Allah masih mendengar doa kami," ucap Susie diamini para PSK dan mucikari di sampingnya.
Di mata mereka, slogan Jatim bersih lokalisasi hanyalah pencitraan Soekarwo. Apesnya, kata Susie dkk, bupati dan wali kota manut saja. Padahal, menurut PSK dan mucikari, tak selamanya penutupan lokalisasi kemudian berdampak positif.
Mereka memberi contoh penutupan Gang Dolly oleh Pemkot Surabaya. Sepengatuan warga Gude, PSK yang biasa mangkal di Dolly tak cepat-cepat meninggalkan pekerjaannya. Malah, kata warga, para PSK menyebar ke daerah lain.
"Sejak Dolly ditutup, banyak para PSK praktik di warung-warung remang di sepanjang daerah Pantura di Tuban dan Lamongan," kata teman-teman Sussie.
PSK dari Dolly pun banyak yang hijrah ke Madiun. Mereka membuka praktik di warung-warung remang kawasan hutan Saradan. "Jadi menurut kami, penutupan lokalisasi itu bukan program cerdas. Tapi, program bodoh pejabatnya dan kegagalan ulama dalam menjaga kehidupan masyarakat," kata Sussie berapi-api.
medcom.id, Madiun: Pemandangan berbeda terlihat di Lokalisasi Gude, Desa Teguhan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Senin (10/11/2014) malam. Pekerja seks komersial (PSK) yang biasa mengundang birahi para tamu dan mucikari yang kerap menawarkan jasa anak-anaknya, mengenakan kerudung dan membawa buku bacaan doa.
Malam itu mereka tak membuka 'praktik'. Pukul 19.30 WIB itu, mereka meninggalkan petak-petak kamar mesum. Puluhan PSK dan mucikari berbondong-bondong menuju Balai Pertemuan Lokalisasi Gude untuk menggelar istigasah, berdoa bersama memohon sesuatu kepada Allah SWT.
Bukan cuma PSK dan mucikari, semua warga yang mencari hidup di Lokalisai Gude, duduk takzim dan khusyuk memanjatkan doa. Istigasah dipimpin Ustaz Maryono. Doa pertama yang dilakukan adalah beristhigfar, doa meminta ampunan kepada Allah SWT.
"Kami menggelar istigasah untuk memperingati Hari Pahlawan, sekaligus berdoa bersama-sama karena malam ini nasib kami terancam. Pemkab Madiun menutup Lokalisasi Gude, tempat kami menggantungkan hidup selama ini," kata Susie, 27, salah satu PSK. Dia berkerudung kuning.
Istigasah digelar untuk mendobrak kebuntuan perjuangan mempertahankan Gude. Mereka sudah beberapa kali mendatangi Kantor DPRD dan Pemkab Madiun untuk menolak penutupan Gude. Tapi, nihil hasil.
Pemkab Madiun resmi menutup lokalisasi legendaris itu di waktu yang sama, di tempat lain. Acara penutupan dihadiri jajaran Pemkab Madiun dan segelintir warga Desa Tambuhan.
Alasan penutupan, menindaklanjuti Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Politisi Partai Demokrat itu punya asa membersihkan Jatim dari tempat penjaja birahi.
"Karena pejabat kita dan ulama kita sekarang sudah tidak mendengar lagi aspirasi kami, malam ini kami bersama-sama berdoa kepada Allah SWT. Semoga Allah masih mendengar doa kami," ucap Susie diamini para PSK dan mucikari di sampingnya.
Di mata mereka, slogan Jatim bersih lokalisasi hanyalah pencitraan Soekarwo. Apesnya, kata Susie dkk, bupati dan wali kota manut saja. Padahal, menurut PSK dan mucikari, tak selamanya penutupan lokalisasi kemudian berdampak positif.
Mereka memberi contoh penutupan Gang Dolly oleh Pemkot Surabaya. Sepengatuan warga Gude, PSK yang biasa mangkal di Dolly tak cepat-cepat meninggalkan pekerjaannya. Malah, kata warga, para PSK menyebar ke daerah lain.
"Sejak Dolly ditutup, banyak para PSK praktik di warung-warung remang di sepanjang daerah Pantura di Tuban dan Lamongan," kata teman-teman Sussie.
PSK dari Dolly pun banyak yang hijrah ke Madiun. Mereka membuka praktik di warung-warung remang kawasan hutan Saradan. "Jadi menurut kami, penutupan lokalisasi itu bukan program cerdas. Tapi, program bodoh pejabatnya dan kegagalan ulama dalam menjaga kehidupan masyarakat," kata Sussie berapi-api.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(JCO)