Warga tengah melihat bangkai ikan yang mengapung di Sungat Citarum yang kini tercemar parah.  Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/333459-hitam-dan-berbau-kondisi-terkini-citarum-karawang. (Foto: MI/Cikwan Suwandi)
Warga tengah melihat bangkai ikan yang mengapung di Sungat Citarum yang kini tercemar parah. Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/333459-hitam-dan-berbau-kondisi-terkini-citarum-karawang. (Foto: MI/Cikwan Suwandi)

Aliran Sungai Citarum di Karawang Berwarna Hitam dan Bau

Nasional pencemaran sungai
Media Indonesia.com • 02 Agustus 2020 19:02
Karawang: Aliran air Sungai Citarum yang melintas tepat di atas jembatan Desa Sukaharja menuju alun-alun Karawang, Kabupaten Karawang, Jawa Barat berwarna hitam pekat dan berbau. Kondisi itu terjadi selama beberapa hari terakhir. Ikan-ikan yang hidup di dalamnya pun mati.
 
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Karawang, Wawan Setiawan, mengatakan, saat ini posisi air Sungai Citarum dari Bendung Walahar sedang dinolkan atau tanpa debit yang mengalir karena pengerukan lumpur di bawah bendung. Sedangkan air yang mengalir saat ini merupakan air limbah dari perusahaan yang keluar dari outfall.
 
Ia juga memastikan jika limbah yang keluar telah diolah melalui pengelolah air limbah atau WTP dan sesuai baku mutu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Adapun warna hitam merupakan endapan di dasar sungai," dalih Wawan, Minggu, 2 Agustus 2020.
 
Baca juga:Puncak Arus Balik Iduladha Malam Ini
 
Sementara itu, Sekretaris Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Citarum (ForkadasC+), Yuda Febrian, menyebutkan, kondisi debit Sungai Citarum harus menjadi catatan. Seperti soal daya dukung saat debit rendah dapat menampung air limbah dari perusahaan yang jumlahnya mencapai puluhan ribu kubik setiap hari.
 
"Jadi ada catatan atau perlu aturan yang mengatur daya tampung debit Citarum. Saya pikir sudah saatnya Citarum untuk tidak dijadikan lagi drainase pembuangan limbah," ungkapnya.
 
Selain itu, Yuda juga menganggap ketika debit Sungai Citarum nol, seharusnya tidak menimbulkan kematian terhadap ikan-ikan.
 
"Karena sebelum mengeluarkan limbah, perusahaan biasanya melakukan pengujian terhadap ikan atau uji biologi," ucapnya.
 
Jika pun ikan mati karena lumpur sisa limbah yang mengendap, hal itu menjadi bukti ada perusahaan yang tetap membandel membuang limbah tanpa melakukan pengolahan.
 
"Harus ada pengawasan yang ketat. Misalnya dari ketegasan penegakan hukum. Tak hanya dilakukan dengan sanksi administrasi atau pembekuan. Melainkan dengan pidana koporasi atau pidana perseorangan yang bertanggungjawab melakukan pengolahan limbah," tegasnya. (Cikwan Suwandi)
 

(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif