Sejumlah ketua RT, RW, dan pengurus LPMK menolak Peraturan Wali Kota Nomor 28 Tahun 2020, Rabu, 14 Oktober 2020. ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya
Sejumlah ketua RT, RW, dan pengurus LPMK menolak Peraturan Wali Kota Nomor 28 Tahun 2020, Rabu, 14 Oktober 2020. ANTARA/HO-Humas Pemkot Surabaya

Ketua RT-RW di Surabaya Tolak Aturan Pemakaman Pasien Covid-19

Nasional Virus Korona Pasien Covid-19 Pencegahan Covid-19 Protokol Covid-19 Pengurusan jenazah covid-19
Antara • 14 Oktober 2020 16:38
Surabaya: Sejumlah ketua RT, RW, dan pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) di Kelurahan Jeruk, Lakarsantri, Surabaya, menolak aturan kewajiban pemakaman pasien covid-19 di TPU Babat Jerawat atau TPU Keputih.
 
Aturan itu tertuang pada Peraturan Wali Kota Nomor 28 Tahun 2020 Tentang Pedoman Tatanan Normal Baru Pada Masa Pandemi Covid-19.
 
"Aturan itu sangat menyusahkan para pengurus LPMK, RW dan RT, khususnya soal aturan pemakaman," kata Ketua LPMK Kelurahan Jeruk Budiono di Kantor Kelurahan Jeruk, Rabu, 14 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Vaksinasi Covid-19 Tahap Pertama di Bekasi Sasar 20 Persen Warga
 
Dia menjelaskan yang menolak Perwali 28/2020 ini adalah para pengurus LPMK, Ketua RW 01, RW 02, RW 03 serta 16 ketua RT yang ada. Mereka beramai-ramai menolak Perwali 28/2020 yang salah satunya mengatur tentang pemakaman, di mana setiap korban meninggal dengan status suspek, probable, dan positif covid-19 harus dimakamkan di TPU Babat Jerawat atau TPU Keputih.
 
Selain menggelar demo para pengurus LPMK, RW dan RT ini juga menyatakan mundur dan secara simbolis dilakukan dengan menyerahkan stempel yang diberi dari kelurahan.
 
Setelah menggelar demo para pengurus LPMK, RW dan RT ini kemudian diminta masuk ke ruang pertemuan kantor kelurahan. Di dalam sudah hadir Camat Lakarsantri, Harun Ismail, serta anggota Komisi D DPRD Surabaya Hari Santoso untuk melakukan mediasi.
 
Menurut Budiono setiap ada warga yang meninggal karena covid-19, para pengurus LPMK, RT, dan RW selalu kewalahan karena dimintai tolong oleh warga dengan waktu tidak menentu mulai tengah malam sampai subuh.
 
Para warga ini, lanjut dia, meminta tolong agar jenazah bisa dipulangkan dan dimakamkan tidak jauh dari rumah. Budiono ingin meski warga yang meninggal karena covid-19 tetap bisa dimakamkan di tempat masing-masing.
 
Sebab kata dia jenazah sudah dilakukan SOP protokol covid-19 dengan diberi kantung jenazah serta peti sehingga dianggap tidak akan menularkan.
 
Sementara Ketua RW 01, Syafaat Yudha, mengatakan bahwa keluhan ini terjadi bukan hanya di pengurus RW Kelurahan Jeruk, tapi juga para pengurus RT serta RW di kelurahan lain di Kecamatan Lakarsantri.
 
"Karena informasi yang beredar saat ini sudah sedemikian vulgarnya. Ada yang menyebutkan jika jenazah korban covid-19 tidak berbahaya, sebab virusnya sudah mati bersamaan saat itu dengan meninggalnya korban," ujarnya.
 


 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif