Manado: Wabah demam berdarah dengue (DDB) sedang menyerang hampir seluruh wilayah Indonesia. Banyak wilayah yang terdampak virus yang dibawa nyamuk aedes aegypti ini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sulawesi Utara Steaven Dandel menjelaskan sulitnya DBD dibasmi.
Menurutnya, dari hasil penelitian menyebutkan bahwa virus dengue yang dibawa nyamuk tersebut, sudah ada sejak nyamuk masih berbentuk telur.
"Virus dengue yang dibawa nyamuk dewasa penyebab DBD itu ternyata bisa ditransmisikan (diturunkan) dari induk betina ke telurnya. Sehingga saat telur menjadi nyamuk dewasa virus denguenya sudah ada di dalam tubuh nyamuk tanpa harus melalui proses menggigit manusia," kata Steaven, saat ditemui di kantornya, Jalan 17 Agustus, Manado, Kamis, 31 Januari 2019.
Hal ini, lanjut dia, berbeda dengan penyakit malaria yang prosesnya selalau melewati gigitan pertama ke manusia.
"Jadi kalau kita proteksi dari awal sampai periode tiga bulan dia tidak bisa menggigit siapapun di lokasi tersebut, maka dengan sendirinya plasmodium (virus pembawa malaria), akan hilang. Tapi tidak dengan DBD, itu akan selalu ada virusnya," terangnya.
Selanjutnya juga, perindukan nyamuk DBD sangat mudah. Tak seperti nyamuk malaria yang terdapat di wilayah-wilayah khusus seperti hutan dan tidak bertahan di wilayab perkotaan.
"Sementara nyamuk DBD justru berada di wilayab perkotaan atau di wilayah padat penduduk karena dia butuh darah manusia untuk menghangatkan telurnya. Itu juag sehingga dampaknya lebih kelihatan," bebernya.
Hal tersebut menurut Steaven, menjadikan malaria lebih gampang diatasi ketimbang DBD. Karena, karakteristik nyamuk DBD yang lebih suka wilayah-wilayah perkotaan.
"Dan terutama di wilayah-wilayah yang kebersihan lingkungannya tidak terjaga dengan baik," ujarnya.
Untuk itu, menurut dia, para ahli banyak menyebut penyebaran DBD terjadi lantaran kualiatas lingkungan di sekitar itu jelek.
"Untuk itu, mengapa di wilayah-wilayah tropis, penyebaran DBD sangat tinggi. Karena dilihat dari iklim maupun gaya hidup kebersihan lingkungannya yang kurang diperhatikan," paparnya.
Selain itu, tambah Steaven, kondisi cuaca yang saat ini masuk musim penghujan, membuat nyamuk terus berkembang, sehingga pembasmian nyamuk atau virus dengue cukuo sulit dilakukan.
Di sisi lain, sesuai dengan pernyataan WHO, menyebutkan keberadaaan DBD juga lantaran perencanaan tatakota yang kurang baik. Menurut Steaven, kalau masih ada demam beradarah kita harus meninjau kembali perencanaan tatakota.
"Bagaimanacara mengatur kompleks perumahasan, sistem pembuangan air limbah, pengelolaan sampah, dan lain-lain. Sehingga cukup kompleks sekali," pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan