ilustrasi/Medcom.id
ilustrasi/Medcom.id

BMKG Sebut Patahan Cugenang Pemicu Gempa Cianjur Belum Teridentifikasi

Antara • 08 Desember 2022 22:10
Cianjur: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan patahan Cugenang, pemicu gempa Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, belum teridentifikasi.
 
"Jadi di Indonesia ini sudah identifikasi 295 patahan aktif. Namun, patahan Cugenang yang ini belum termasuk yang teridentifikasi. Jadi ini yang baru saja ditemukan atau teridentifikasi," kata Dwikorita, Kamis, 8 Desember 2022.
 
Dwikorita mengatakan zona patahan Cugenang menjadi penting diperhatikan lantaran harus dikosongkan apabila ada yang akan melakukan rekonstruksi atau pembangunan ulang kembali.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi kalau membangun kembali, belum tahu patahan yang ada di mana. Dikawatirkan zona yang patah atau bergeser itu akan dibangun lagi, dan kurang lebih 20 tahun kemudian akan runtuh lagi," ujar Dwikorita.
 
Sehingga menurut Dwikorita, penemuan atau penetapan zona patahan ini sangat vital dalam mendukung pembangunan kembali rumah-rumah yang rusak. Dwikorita mengatakan salah satu dasar pertimbangan untuk menentukan atau patahan adalah pecahnya permukaan tanah yang lurus.
 
Baca: Pencarian 8 Korban Gempa Cianjur di Hari ke-18 Nihil

Menurutnya, patahan ini yang harus diwaspadai, dan dihindari saat membangun kembali. Sebab itu merupakan patahan aktif yang baru teridentifikasi.
 
Berdasarkan mekanisme gempa-gempa susulan yang direkam sensor BMKG, sampai sekarang sudah lebih dari 400 kali kejadian gempa susulan.
 
Patahan yang digambarkan dengan garis putus-putus tegak lurus dari Desa Nagrak hingga Desa Ciherang ke arah timur laut adalah jalur yang nantinya harus dikosongkan.
 
Sebab, jika terjadi gempa susulan kurang lebih 20 tahun, bangunan-bangunan di sekitar lokasi patahan akan terdeformasi dan bisa mengalami getaran yang kuat dan menyebabkan keruntuhan.
 
"Jadi itu zona yang harus dikosongkan adalah sepanjang garis putus-putus ini, dan ke kanan dan ke kiri kurang lebih 300-500 meter," ujar Dwikorita.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news medcom.id
 
(NUR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif