ilustrasi Medcom.id
ilustrasi Medcom.id

Disiplin Atau Peti Mati

Nasional Virus Korona PSBB
Amaluddin • 23 Mei 2020 13:44
Surabaya: Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan dua pilihan terhadap masyarakat yang cuek terhadap penyebaran covid-19 khususnya di Surabaya Raya. Dua pilihan itu yakni disiplin menjaga protokol kesehatan covid-19 atau disiapkan peti mati.
 
"Kalau masyarakat tetap tidak disiplin dan pemerintah disiplin menegakkan aturan, yang disediakan adalah ventilator dan peti mati. Jadi ini serius sekali," kata Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jatim, Joni Wahyuhadi, Sabtu, 23 Mei 2020.
 
Joni tampaknya mulai geram dengan sikap masyarakat yang masih banyak mengabaikan protokol kesehatan. Salah satunya, kata Joni, tiga hari terakhir ini banyak masyarakat berkerumun memilih baju lebaran di mal dan masih banyak juga orang-orang berkeliaran, nongkrong, dan lainnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Akibatnya jumlah kasus baru khususnya di Surabaya Raya meningkat signifikan. Di mana angka kasus baru di Jatim mencapai 502, dan 395 di antaranya dari Surabaya Raya, yakni 311 kasus di Surabaya, 57 di Sidoarjo, dan 27 di Gresik. Surabaya Raya menyumbang 78 persen dari total kasus covid-19 di Jatim pada Kamis, 21 Mei 2020.
 
"Kondisi ini dipengaruhi tidak disiplinnya masyarakat. Sehingga menyulitkan upaya menekan angka penyebaran covid-19. Padahal kuncinya mencegah covid-19 adalah disiplin, baik pemerintah dan masyarakat," jelasnya.
 
Menurut Joni keberhasilan negara-negara lain menang melawan covid-19 karena faktor kedisplinan masyarakat. Sehingga tinngginya tingkat kedisiplinan masyarakat, membantu tim media menekan dan melawan penyebaran covid-19. "Kalau kita melihat kasus covid-19 di Filipina, Vietnam, Thailand, tingkat disiplinnya tinggi. Sehingga angka kasus covid-19 terus menurun," ungkapnya.
 
Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah untuk menekan kasus covid-19 di Jatim, yakni memberlakukan PSBB agar masyarakat disiplin, dan menjaga protokol kesehatan. Namun PSBB di Surabaya Raya dianggap gagal, mengingat kasus covid-19 terus meningkat tajam.
 
"Padahal keberhasilan PSBB itu bisa dilihat dari berkurangnya jumlah kasus, dan tidak ada klaster baru. Karena PSBB ini suatu alat agar semuanya melakukan pendisplinan sosial distancing, pakai masker, dan hidup sehat," pungkas Joni.
 

(DEN)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif