Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Bupati Aceh Tengah Diancam Dibunuh Wakilnya

Nasional pembunuhan
Fajri Fatmawati • 15 Mei 2020 12:41
Banda Aceh: Bupati Kabupaten Aceh Tengah, Shabela Abubakar, mengaku diancam akan dibunuh oleh wakil bupatinya terkait persoalan proyek. Namun, Wakil Bupati Aceh Tengah, Firdaus, menampik ancaman pembunuhan tersebut.
 
Shabela mengatakan nyaris terjadi perkelahian antara dirinya dengan Firdaus di pendopo bupati Aceh Tengah pada Rabu malam, 13 Mei 2020. Dia mengungkap mulanya tengah mengadakan rapat bersama dinas.
 
"Terkait penanganan virus korona (covid-19) dan bencana banjir bandang yang baru saja terjadi sorenya," kata Shabela kepada wartawan, Jumat, 15 Mei 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia melanjutkan, saat rapat dikagetkan dengan kedatangan Firdaus yang langsung masuk ke ruang tamu pendopo. Firdaus, kata dia, langsung memaki sembari mengancam membunuhnya.
 
"Bahkan dia mengancam akan membunuh saya dan anak saya," ucapnya.
 
Dia mengaku kala itu Firdaus menyinggung soal proyek. Namun, Shabela tidak mengerti proyek yang dimaksud Firdaus.
 
"Ini tidak bisa dibiarkan. Rencana, akan saya laporkan ke polisi," tegasnya.
 
Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Tengah, menampik perihal ancaman pembunuhan Shabela. Namun, dia membenarkan mendatangi Pendopo Bupati pada Rabu malam.
 
|"Kalau ancaman membunuh itu tidak ada," ucap Firdaus.
 
Dia menerangkan sempat menghubungi Shabela melalui telepon sebanyak empat kali. Namun, panggilan telepon tak kunjung dijawab Shabela.
 
"Handphone aktif tapi tidak diangkat, terus dimatikan. Berulang kali seperti itu, seandainya diangkat mungkin saya tidak ke pendopo cukup bicara melalui hp saja," kata Firdaus, dikonfirmasi Medcom,id, Jumat, 15 April 2020.
 
Firdaus pun mengaku melontarkan kata tidak pantas ke Shabela. Namun dia menampik ada ucapan ancaman pembuhunan.
 
"Saat itu saya kesal karena merasa tidak dihargai sebagai Wakil Bupati," ujarnya.
 
Dia mengungkap kekesalannya lantaran proyek senilai Rp17 miliar tanpa sepengetahuannya. Dia menerangkan, kejadian tersebut terus berulang sehingga membuatnya emosi.
 
"Setiap tahun seperti itu, tidak ada sedikit pun pemberitahuan. Dari tahun ke tahun, ini sudah masuk tahun ke tiga masih seperti itu juga. Saya mau ngomong ke dia, ya jangan begitulah, kita kan dihargai juga," ucap Firdaus.
 
Tak hanya perihal proyek, kata dia, Shabela kerap tak berkoordinasi soal kegiatan Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Umum (RSU) Datu Beru, dan ketika mengeluarkan kebijakan. Dia menekankan, Shabela kerap bekerja sendiri tanpa berkoordinasi dengannya.
 
"Walaupun dia pimpinan, tapi saya selaku Wakil Bupati ada hak untuk tahu," tegasnya.
 
Firduas menerangkan pemerintah adalah pengelola administrasi pemeritahan. Seharusnya pemerintah tidak terpecah belah dan harus transparan.
 
Perihal laporan polisi yang akan dilakukan Shabela, Firdaus mengaku siap menghadapi proses hukum. Dia menilai, ha; itu adalah hak setiap warga negara.
 
"Kita ikuti dan hormati proses hukum, karena itu adalah hak setiap warga negara," tukasnya.
 

(LDS)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif