Ilustrasi tempe di Sentra Industri Tempe, Kampung Sanan, Kota Malang, Jawa Timur, Senin, 4 Januari 2021. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq
Ilustrasi tempe di Sentra Industri Tempe, Kampung Sanan, Kota Malang, Jawa Timur, Senin, 4 Januari 2021. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq

Perajin Tempe di Malang Tetap Produksi

Nasional kedelai Tempe
Daviq Umar Al Faruq • 04 Januari 2021 22:50
Malang: Ratusan perajin tempe di Sentra Industri Tempe, Kampung Sanan, Kota Malang, Jawa Timur, memilih tetap produksi meskipun harga kedelai melonjak. Mereka tak ikut mogok produksi seperti yang dilakukan produsen tahu dan tempe di Jakarta dan Jawa Barat sejak 1 hingga 3 Januari 2021.
 
"Kami nggak ada mogok produksi. Cuma selama pandemi sejak Maret 2020 lalu, kami produksi seminggu sekali. Biasanya kami produksi sehari sekali," kata Ketua Paguyuban Sentra Industri Tempe Sanan, M Arif Sofyan Hadi, Senin, 4 Januari 2021.
 
Baca: 77.760 Vaksin Hanya Mencukupi 38.880 Orang di Jatim

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ada sekitar 636 perajin tempe dan keripik tempe di Sentra Industri Tempe. Sebelum harga kedelai naik, para perajin tempe ini sudah terdampak lebih dulu dengan adanya pandemi covid-19.
 
Akibatnya mereka pun terpaksa membatasi produksi tempe. Pasalnya, pembeli mulai sepi sehingga para perajin tempe pun tak berani memproduksi untuk stok. Mereka hanya akan produksi ketika ada pesanan dari pembeli.
 
"Banyak perajin yang libur gara-gara covid-19 apalagi sekarang ditambah kedelai naik. Sebagian perajin sekarang hanya nunggu order saja, nggak berani stok. Sebagian lainnya masih terus produksi," jelasnya.
 
Di sisi lain para perajin tempe di Sentra Industri Tempe Sanan ini memang sengaja tak memilih mogok produksi lantaran limbah tempe bisa dimanfaatkan menjadi makanan sapi. Bahkan, di kawasan Sanan sendiri terdapat kurang lebih 1.000 sapi yang diternak.
 
"Limbahnya bisa untuk penggemukan sapi. Limbah kedelai sama kulit. Nanti enam bulan baru bisa dipanen. Kalau kita mogok kan jadi butuh biaya lagi buat pakan ternaknya," ungkapnya.
 
Selama pandemi covid-19, pendapatan para perajin tempe di Sentra Industri Tempe praktis turun drastis. Oleh karena itu, mereka berharap mendapat perhatian pemerintah, salah satunya dengan membuat kebijakan agar harga kedelai bisa kembali stabil seperti sebelumnya.
 
"Ya mudah-mudahan ada solusinya. Karena kalau begini harga tempe juga ikut naik, keripik tempe juga kena imbas. Mau jual mahal sulit, pembeli juga nggak ada," ujarnya.
 
Harga kedelai melonjak tajam dari Rp6.500/kilogram menjadi Rp9.200 hingga Rp10.000/kilogram. Kondisi ini membuat sekitar 5.000 UMKM pembuat tahu dan tempe mogok produksi.
 
 
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif