Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo. Foto: Antara/Wahyu Wening
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo. Foto: Antara/Wahyu Wening

Pemenang Transmigran Teladan Sukses di Perantauan

15 Agustus 2017 21:38
medcom.id, Jakarta: Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) memberikan penghargaan kepada pendamping lokal desa dan transmigran teladan 2017. Pemberian penghargaan ini sebagai pengakuan atas keteladanan transmigran dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan pengembangan pemukiman transmigrasi.
 
"Penghargaan ini diberikan atas dedikasi mereka dalam menjalankan tugas dalam mendampingi desa," ujar Menteri Desa PDTT, Eko Putro Sandjojo, saat penganugerahan penghargaan di Jakarta, seperti dilansir Antara, Selasa 15 Agustus 2017.
 
Eko mengatakan transmigran jangan berkecil hati karena banyak transmigran yang malah lebih sukses dibandingkan masyarakat yang ada di perkotaan. Ia memberi contoh, transmigran yang mendapatkan penghargaan tersebut rata-rata memiliki penghasilan Rp200 juta hingga Rp300 juta per tahun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Begitu juga dengan anak-anak transmigran, banyak yang sudah sukses dan menjadi pejabat di negeri ini. Eko memberi contoh Gubernur Bali I Made Mangku Pastika yang merupakan anak dari seorang transmigran di Bengkulu.
 
"Jadi jangan berkecil hati menjadi transmigran. Malah seharusnya bangga, karena banyak transmigran yang sudah sukses." 
 
Melalui program transmigrasi, kata dia, program pemerataan pembangunan dapat berlangsung baik. Lokasi-lokasi transmigrasi sekarang telah menjadi dua ibu kota provinsi, 104 ibu kota kabupaten/kota, 385 kecamatan, 1.183 desa-desa definitif dan lebih 3.583 desa baru.
 
"Melalui program Kemendes PDTT yakni produk unggulan kawasan pedesaan, kami yakin para transmigran akan lebih sejahtera lagi," ujarnya, berharap.
 
Para transmigran terbaik yakni Didi Jubaedi (Desa Mahalona SP3, Buangin, Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan), Triyadi (Air Balui SP2, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Fathur Aswan (Awanua, Toari, Sulawesi Tenggara), Zainuddin (Brang Lamar, Sumbawa), Charles Rudolf Yeheskiel Hauteas (Klus Kualn, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur), dan Karas Namudat (Tomage SP1, Tomage, Fakfak, Papua Barat).
 
Sementara, untuk pendamping lokal desa teladan yakni Nur Irawati untuk wilayah barat, kemudian Ni Ketut Sri Astuti untuk wilayah tengah dan Leo Pigome untuk wilayah timur.
 
Seorang pendamping desa teladan yakni Leo Pidome, mengatakan ia harus berjalan kaki masuk kampung ke luar kampung untuk memberikan pendampingan. "Pada awalnya saya hanya mendampingi tiga kampung, namun di kemudian hari tiga kampung ini menjadi 12 kampung," ungkap Leo.
 
Meski demikian, Leo mengaku tetap senang bekerja sebagai pendamping desa, karena bisa mendapatkan ilmu baru. "Kalau gaji tidak seberapa, tetapi yang paling penting bisa mendapatkan ilmu baru," cetus Leo yang berasal dari Kabupaten Paniai, Papua, tersebut.
 

 
(UWA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif