Ilustrasi industri sapi perah - - Foto: Antara/ Aprilio Akbar
Ilustrasi industri sapi perah - - Foto: Antara/ Aprilio Akbar

PMK Jangkit Sapi Perah di 4 Kecamatan Kabupaten Bandung

Media Indonesia • 20 Mei 2022 11:55
Bandung: Dinas Pertanian Kabupaten Bandung menemukan kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di loksi peternakan sapi perah yang ada di empat kecamatan. Saat ini upaya pengendalian tengah dilakukan agar peyakit yang menyerang hewan ternak itu tidak semakin menyebar.
 
"Sampai dengan 18 Mei 2022, sudah ditemukan kasus yang diduga PMK di empat kecamatan dengan 5 desa di lokasi kantong ternak sapi perah, yang kemungkinan akan menyebar dengan cepat jika tidak segera dilakukan tindakan pengendalian," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Tisna Umaran di Bandung, Jumat, 20 Mei 2022.
 
Tisna menjelaskan, morbiditas ditingkat kandang pada empat kecamatan tersebut saat ini berkisar 0,75-2,2 persen. Dengan mayoritas temuan berada di sapi perah. Empat kecamatan yang diduga ada kasus PMK yaitu, Kecamatan Kertasari, Desa Tarumajaya (sapi perah) dengan morbitidas 0,33 persen, Kecamatan Pangalengan Desa Margamekar (sapi perah) morbitidas 2,2 persen, Kecamatan Pasir jambu, Desa Mekarmaju dan Desa Cibodas ( sapi perah) morbitidas 0,75 persen, dan Kecamatan Cimenyan Desa Mekarmanik (sapi potong)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya memperkirakan morbiditas di empat kecamatan tersebut masih rendah, dengan demikian kini saatnya Dinas Pertanian melakukan pengendalian terhadap wabah PMK tersebut. Memang masih cukup rendah, sehingga inilah golden time untuk melakukan pengendalian, berdasarkan hasil temuan di lapangan," ujarnya lagi.
 
Baca: Kota Balikpapan Terancam Kekurangan Stok Sapi Kurban Imbas PMK
 
Menurut Tisna, faktor penyebaran penyakit bukan hanya dari hewan ternak yang dilalulintaskan antar kabupaten atau provinsi, tapi juga hewan yang berada di dalam Kabupaten Bandung sendiri. Jadi dengan adanya temuan ini, tentu akan dilakukan beberapa upaya dalam menanganinya, salah satunya adalah dengan menerbitkan surat edaran (SE).
 
"Kami akan menerbitkan SE ke kepala dinas, rakor internal petugas, melaksanakan pengawasan lalu lintas ternak di pasar hewan , rumah potong hewan (RPH) dan peternak. Pengawasan tindak karantina terhadap hewan masuk yang tanpa memiliki SKKH dan berasal dari daerah tertular/resiko tinggi (terindikasi) dan melakukan pengobatan terhadap ternak yang sakit/ suspect PMK,” lanjutnya.
 
Medis Veteriner Ahli Muda sub Koordinator Kesehatan Hewan, Elise Wieke Pertiwi mengatakan, PMK ini adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyebar cepat kepada hewan ternak berkuku genap seperti sapi, kerbau, domba, dan kambing.
 
"Untuk di Kota Bandung hingga saat ini belum ada kasus PMK, tapi kami telah membentuk tim satgas dan proses yang sudah dilakukan adalah melakukan sosialisasi kepada peternak. Pengetatan dalam kedatangan hewan ternak yang masuk ke Kota Bandung pun terus dilakukan," katanya.
 
Menurut Elise, para peternak yang mendatangkan hewan ternak dari daerah lain harus memberikan surat keterangan sehat baru bisa mengizinkan hewan ternak masuk. Elise juga mengingatkan kepada peternak untuk menjaga kebersihan kandang dengan memberikan simulasi kebersihan kandang.
 
"Yang perlu diketahui oleh peternak ciri-cirinya hewan terkena PMK adalah hewan mengalami demam, mengeluarkan air liur berlebihan seperti sariawan yang muncul luka di gusi dan mulut. Bahkan jika sampai parah, bagian kaki bisa sampai lepas," terangnya.
 
Namun lanjut Elkise, untuk lebih tepat sebaiknya hewan tersebut bisa dibawa sebagai sample ke dalam laboratorium untuk dipastikan virus tersebut PMK atau bukan. Virus PMK pun akan menularkan kepada hewan ternak lainnya dengan gejala akan terlihat 2-14 hari.
 
Oleh karena itu jika satu hewan kena dan tidak diisolasi tanpa penanganan tepat 90 persen akan menularkan pada hewan lainnya terutama yang satu kandang.
 
(WHS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif