Ilustrasi. (Foto: Medcom.id)
Ilustrasi. (Foto: Medcom.id)

Tiga Remaja Diduga Jadi Muncikari Prostitusi Daring

Nasional prostitusi online
Octavianus Dwi Sutrisno • 28 Januari 2020 19:51
Depok: Kepolisian Resor Metro Kota Depok, Jawa Barat, membongkar praktik prostitusi daring dibawah umur. Tiga remaja yakni MPR, 16; AIR, 17; dan BS, 17; diduga bertindak sebagai muncikari dan menjajakan perempuan berinisial AP, 16, ke para pria hidung belang.
 
Kapolres Metro Depok Kombes Azis Andriansyah mengatakan kasus bermula saat orang tua AP melaporkan anaknya meninggalkan rumah sejak 2 Januari 2020. Setelah ditelusuri, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Metro Depok menemukan AP tengah berada di salah satu kamar Apartemen Saladin, Jalan Margonda, Kota Depok.
 
"Hasil pendalaman, ada perbuatan diduga tindak pidana tentang perlindungan anak atau perdagangan orang. Korban yang hilang dieksploitasi secara ekonomi maupun seksual, untuk diambil keuntungannya," ujarnya di Mapolres Metro Depok, Jalan Margonda, Selasa, 28 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain korban, di dalam kamar tersebut juga ditemukan remaja perempuan lain berinisial ZF. Remaja 16 tahun itu diduga menjadi objek praktik prostitusi juga.
 
"Pelakunya tiga orang itu sekarang masih proses pemeriksaan dan penyidikan," katanya.
 
Ketiga pelaku menjajakan AP dan ZF via aplikasi media sosial Michat atas nama kedua korban. Pelaku juga yang mengoperasikan aplikasi dan mencari pelanggan dengan 'jualan' kencan singkat.
 
"Pelaku menawarkan korban kepada para pelanggan melalui aplikasi media sosial. Di aplikasi itu dituliskan 'open BO include room'. Satu kali kencan singkat, mereka mendapatkan bagian," paparnya.
 
Saat dikonfirmasi terkait hubungan korban dan pelaku, Azis menerangkan AP berkenalan dengan AIR melalui jejaring sosial Facebook. Lalu pada 2 Januari 2020, korban diajak ke apartemen dan ditawari menjadi objek prostitusi.
 
"Karena korban membuat status Facebook sedang butuh uang pelaku menawarkan untuk melayani pelanggan. Korban ditawarkan untuk melakukan prostitusi yang ditawarkan melalui aplikasi Michat," jelasnya.
 
Keterangan pelaku, imbuh Azis, untuk tarif satu kali kencan singkat, pelanggan harus membayar senilai Rp450 ribu hingga Rp1 juta. Korban bahkan telah 'dipasarkan' lebih dari 50 kali.
 
Atas perbuatan itu para pelaku disangkakan melanggar Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Orang.
 
"Ancaman hukumannya, untuk perlindungan anak 10 tahun sedangkan perdagangan orang tiga sampai 15 tahun penjara," pungkasnya.
 

(MEL)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif