Gajah Sumatra di Kawasan Lindung, HTI RLU atau Wildlife Conservation Area (WCA), Jambi. Dok. Istimewa
Gajah Sumatra di Kawasan Lindung, HTI RLU atau Wildlife Conservation Area (WCA), Jambi. Dok. Istimewa

Gajah Sumatra di Kawasan Konservasi RLU Terpantau Sehat

Achmad Zulfikar Fazli • 25 Mei 2022 18:22
Jambi: Sekelompok gajah Sumatra yang menempati Kawasan Lindung di HTI Royal Lestari Utama (RLU) atau Wildlife Conservation Area (WCA), Jambi, terpantau sehat. Gajah tersebut terdiri dari gajah dewasa dan beberapa anak gajah.
 
“Populasi gajah yang sehat ini adalah tanda positif akan keberhasilan upaya kolaborasi yang dilakukan perusahaan bersama dengan para pemangku kepentingan untuk melakukan konservasi gajah dan habitatnya,” kata Direktur Sustainability, Corporate Affairs, dan HR PT Royal Lestari Utama (RLU), Yasmine Sagita, dalam keterangan tertulis, Rabu, 25 Mei 2022.
 
Yasmine mengatakan sejak dibentuk pada 2015, pihaknya membangun tim ranger atau penjaga hutan yang bertugas untuk melakukan patroli kawasan lindung perusahaan guna mendata, memantau, dan melakukan upaya konservasi terhadap gajah Sumatra dan habitatnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


WCA adalah area konservasi tambahan yang diinisiasi mulai 2018 dengan luas kurang lebih 9.700 hektare di Jambi. Pihaknya mendedikasikan WCA sebagai kawasan konservasi yang bertujuan sebagai ruang jelajah yang aman bagi populasi gajah, sekaligus manjaga ruang penghidupan masyarakat adat Orang Rimba. 
 
Area ini juga menjadi zona penyangga bagi Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) yang letaknya berdampingan dengan area HTI RLU. Wujud komitmen terhadap upaya konservasi, perusahaan mengalokasikan 25 persen area konsesinya di Jambi sebagai kawasan lindung, di atas batas 10 persen yang ditetapkan pemerintah.
 
Pihaknya menempatkan 24 ranger terlatih dan berpengalaman yang secara teratur melakukan patroli. Kemudian, melakukan upaya restorasi pada area-area yang terdegradasi di kawasan konservasi.
 
Yasmine menjelaskan dalam menjalankan fungsi restorasi, ranger mengumpulkan benih dan bibit tanaman, termasuk tanaman langka dari dalam hutan konservasi.
 
Benih yang telah dikumpulkan selanjutnya dibudidayakan di area khusus, sehingga diperoleh bibit yang siap ditanam di area restorasi. Kegiatan restorasi yang intensif dilakukan mulai 2018 ini mengumpulkan dan menyiapkan lebih dari 26 ribu bibit tanaman hutan.
 
Selain itu, telah melakukan penanaman kembali pohon sekitar 10 ribu bibit hutan di area yang terdegradasi. Termasuk yang ditanam kembali tersebut adalah tanaman yang menjadi bagian yang dibutuhkan habitat gajah Sumatra.
 
Untuk memantau pergerakan dan jumlah populasi satwa liar, para ranger secara periodik melakukan pemantauan jalur gajah secara langsung dan memasang sejumlah kamera trap di dalam kawasan hutan konservasi.
 
Berdasarkan pengamatan data dari kamera trap, sejumlah satwa endemik termasuk satwa langka terpantau masih ada di kawasan hutan.
 
Tidak hanya di Jambi, RLU mengembangkan program yang sama di Kalimantan Timur. Perseroan bahkan mengalokasikan hingga 50 persen dari area konsensinya sebagai kawasan konservasi sebagai upaya perlindungan satwa liar langka dan dilindungi, termasuk orang utan.
 
Perseroan bekerja sama dengan Ecology and Conservation Center for Tropical Studies (Ecositrop) untuk melakukan penelitian dan perlindungan terhadap sekitar 200 individu orang utan yang terpantau berada di kawasan hutan konservasi perusahaan.
 
Koordinator Peneliti Ecositrop, Yaya Rayadin, mengatakan perlindungan orang utan terbaik adalah melindungi habitatnya untuk menghindari konflik dengan manusia. Selain pemerintah, pihak swasta ikut berperan dalam melindungi habitat orang utan, dengan menyediakan kawasan konservasi.
 
“Kasus-kasus seperti orang utan ditembak, orang utan terjerat, dan lain-lain hanya menjadi bagian kecil kasus konflik dengan manusia. Apabila ingin memberi perlindungan maka agenda besarnya adalah memelihara dan menjaga habitat orang utan, agar dapat tetap leluasa mencari makan dan berkembang biak,” kata dia.
 
Salah satu yang patut diapresiasi dan sudah dapat dijadikan model konservasi orang utan adalah langkah yang diambil PT Multi Kusuma Cemerlang (MKC). Anak usaha RLU itu sudah memiliki model konservasi orang utan yang sudah cukup baik, antara lain untuk populasi orang utan yang berada di perusahaan yang bisnisnya di ranah Hutan Tanaman Industri (HTI).
 
"Ada kriteria dan kebutuhan yang harus mereka terapkan untuk memperoleh sertifikasi pengelolaan hutan lestari, termasuk di antaranya menetapkan dan melindungi kawasan bernilai konservasi tinggi untuk konservasi biodiversity termasuk orang utan," jelas dia.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif