Ilustrasi - Hamparan lahan pertanian yang tandus saat musim kemarau di Kabupaten Kupang, NTT. ANTARA/Aloysius Lewokeda
Ilustrasi - Hamparan lahan pertanian yang tandus saat musim kemarau di Kabupaten Kupang, NTT. ANTARA/Aloysius Lewokeda

Hari Tanpa Hujan Ekstrem Menghantui Warga NTT

Antara • 20 September 2022 16:36
Kupang: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga agar mewaspadai kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrem panjang yang semakin meluas di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
 
"Dampak bencana kekeringan perlu diwaspadai masyarakat di daerah dengan HTH ekstrem panjang karena tidak memiliki curah hujan lebih dari 61 hari," kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang BMKG Rahmattulloh Adji dalam keterangan yang diterima di Kupang, Selasa, 20 September 2022.
 
Ia mengatakan hal itu berkaitan dengan hasil pemantauan HTH Dasarian II September 2022 di NTT.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menjelaskan HTH ekstrem panjang semakin meluas mencakup sejumlah daerah di NTT antara lain Kabupaten Sumba sekitar Melolo, Wanga, Kwangu, Kananggar, Tawui, Rambangaru, Praiwitu, dan Kamanggih, Kabupaten Sabu Raijua sekitar Stamet Tardamu Sabu dan Daieko, Kabupaten Rote Ndao sekitar Olafuliha'a, Feapopi, dan Busalangga.
 
Baca juga: Wilayah Kesulitan Air Bersih di Boyolali Meluas

Selain itu Kota Kupang sekitar Fatubena dan Manulai II, Kabupaten Kupang sekitar Baumata, Oenesu, dan Oemofa, Kabupaten Timor Tengah Selatan sekitar Panite, Boentuka, dan Oebelo, Kabupaten Timor Tengah Utara sekitar Oenenu, Mamsena, Insana, dan Sapa'an, Kabupaten Flores Timur sekitar Boru, serta Kabupaten Belu sekitar Fatubenao, Wedomu, dan Haekesak.
 
Adji mengatakan kondisi HTH ekstrem panjang dapat mengakibatkan bencana kekeringan meteorologis sehingga masyarakat di wilayah-wilayah yang terdampak agar meningkatkan kewaspadaan.
 
Masyarakat, kata dia, harus menghemat penggunaan air bersih agar bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan selama musim kemarau berlangsung.
 
Adji menyarankan agar para petani agar menanam tanaman yang tidak membutuhkan banyak air agar berpeluang memberikan hasil untuk dipanen di musim kemarau.
 
Selain itu potensi kebakaran hutan dan lahan juga meningkat di tengah kondisi kekeringan sehingga masyarakat perlu menghindari kegiatan yang dapat memicu titik api di area terbuka.
 
"Kondisi kekeringan, kata dia akan membuat titik api bisa meluas dengan cepat apalagi ditambah dengan angin kencang yang bersifat kering," jelas dia.
 
(MEL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif